
Sejak post terakhir di blog ini, tak terhitung banyaknya upaya saya untuk memaksa diri mulai ngeblog. Tapi semua berakhir dengan berkhayal mengetikkan isi blog saja, tak terealisasi.
Tadinya, saya kira, ini karena pekerjaan yang tak lepas dari tulis-menulis. “Ngeblog”-nya di koran, nyaris tiap hari. Lalu digilir ke majalah, yang ngeblognya tiap pekan, lebih jarang tapi lebih tertekan. Begitulah kalau ngeblog di kertas media cetak.
Maka pindahlah saya ke pabrik lain. Pekerjaan mewajibkan terhubung ke internet. Mungkin bisa lebih mudah ngeblog. Tapi belum bisa juga! Sekalinya ngeblog, malah di properti pabrik.
Tulisan sebelum ini ditulis dari hape, dalam rangka menjajal piranti lunak dari perangkat bergerak. Setahun kemudian, tulisan berikutnya ditulis dalam rangka menjajal piranti lunak lainnya. Duh.
Maka, tulisan berikutnya entah kapan muncul lagi. Kali ini, tak usah menabur harapan dulu lah. Gagap ngeblog! Memilih foto saja asal-asalan.
Mungkin Twitter harus disalahkan? Media yang memeras pokok-pokok pikiran menjadi 140 karakter belaka.