on 5 October 2004 by dodi in Renungan, Comments (0)

Anak-Anak Selalu Takjub; Atau Anak-Anak Tak Pernah Takjub

Hari Minggu. Saya, yang tertidur di depan komputer, terbangun mendengar suara tabuhan gendang. Sayup terdengar suara tawa beberapa orang. Saya pun melongok dari teras kosan, dan melihat sebuah gig topeng monyet.

Beberapa keluarga muda tampak mengelilingi pertunjukan kecil itu. Mereka juga membawa anak-anaknya yang masih kecil (paling tua 2 tahunan, lah). Para anak-anak itu “dipaksa” menonton seekor monyet yang melakukan aksi-aksi menakjubkan. Rupanya si Emang tidak hanya membawa monyet. Ia juga membawa seekor ular jinak.

Ketika ular dikeluarkan, para ayah dan ibu muda tampak sedikit kaget. Mungkin juga jijik atau geli. Tapi para anak yang digendong itu tidak bereaksi berlebihan. Tetap menatap lurus saja. Bahkan seorang anak tampak dengan tenangnya menjulurkan tangan ingin menyentuh si ular.

Anak kecil tidak takut ular. Nabi Musa, ketika masih kecil, sempat disodori roti dan batu bara di hadapannya. Musa kecil memilih batu bara dan mencicipnya. Akibatnya pelafalan Musa dewasa agak2 kurang jelas sehingga diangkatlah Harun untuk menjadi tandemnya dalam menyebarkan ajaran Tuhan.

Anak kecil dan orang dewasa berbeda. Bila anak kecil melihat sebuah batu melayang di udara, reaksinya akan sama ketika melihat kapas melayang di udara. Tapi orang dewasa akan kaget. Sebagian melarikan diri sambil berteriak, “Hantuuu!”, dan sebagian yang lain akan mencari semacam benang yang mengikat batu itu.

Mengapa anak kecil tidak takjub? Bagi anak kecil, semua hal adalah baru. Kapas dan batu yang melayang adalah sama. Sementara orang dewasa adalah orang yang telah “merasakan hukum alam”. Ia telah berulang kali melihat batu jatuh ke bumi, lilin yang meleleh, es yang mencair, dan lain-lain. Kumpulan pengalaman itu menyusun pengetahuannya. Maka ketika ada sesuatu terjadi di luar kebiasaan yang telah ia alami, pastilah ia akan kaget, heran, takjub. Ketika sesuatu terjadi dan hal tersebut bersesuaian dengan pengetahuannya, tentu saja reaksinya pun biasa-biasa saja.

Anak kecil, belumlah memiliki pengetahuan itu.

Maka si anak kecil itu santai saja memegang ular. Ia belum memiliki pengetahuan tentang racun ular. Musa juga santai saja mengembat batu bara. Ia tidak tahu beda roti dan batu bara!


siapaoranginikokfotonyaadadisini

Baca komentar terdahulu

Sebarkanlah, meski hanya satu klik:

Tags: ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>