on 7 February 2005 by dodi in fiksi, Renungan, Comments (0)
Jangan Terus Berpaling
Diantara jutaan sel-sel otak manusia, yang secara fisik hanyalah segumpal spons yang direndam dalam darah, ada sekelompok sel yang berfungsi seperti receiver. Ia menangkap gelombang yang dipancarkan dari sebuah tempat di alam semesta ini. Tempat itu memancarkan ide-ide dengan kecepatan yang tak dibatasi oleh dimensi ruang.
Sekumpulan sel itu mengirimkan gelombang yang diterima ke bagian-bagian otak lain yang berhubungan dengan memori, bawah sadar, kemampuan kognisi, kemampuan verbal dan lain-lain. Setelah koordinasi dan proses maha-kompleks, ia kemudian akan diwujudkan sebagai ‘karya’.
Manusia menyebutnya ‘proses kreatif’. Tapi sesungguhnya kita hanyalah seperti sebuah radio! Jumlah sel-sel tersebut berbeda antar individu. Ada pula yang mampu memaksimalkan, dan ada yang kurang. Maka kita mengenal ada orang-orang ‘kreatif’ dan ada pula yang lebih ‘analitis’ atau ‘matematis’.
Suatu tempat di alam semesta itu, sebut saja Pusat Kreativitas Semesta.
***
Pada malam-malam tertentu dimana saya sulit tidur, kadang-kadang datanglah seseorang, sebut saja begitu. Ia akan mengajak saya berdiskusi membahas hal-hal yang sedang saya pikirkan, atau hal-hal yang kemudian, karenanya, justru menjadi terpikirkan oleh saya. Ia selalu saja beroposisi. Mendebat saya.
Ini sudah berlangsung lama sehingga saya cukup terbiasa dengan kehadirannya yang, terus terang, mengganggu.
Seperti malam ini. Saya baru saja selesai melakukan ibadah malam yang wajib di agama saya, solat isya. Ketika saya membalikkan tubuh, tiba-tiba saja ia sudah duduk sambil tersenyum-senyum menatap saya. Seperti biasa, ia muncul entah dari mana.
Masih solat, kamu?
Saya menghela napas. “Iya. Kalau tidak, rasanya tidak nyaman. Saya merasa bersalah.”
Pada Tuhan?
“Ya…”
Kenapa harus begitu?
“Karena dalam agama yang saya imani, ia diwajibkan.”
Bila tidak, kamu akan masuk neraka?
“Tidak sesederhana itu!”
Kamu pasti berpikir bahwa karena Tuhan-lah Sang Pencipta, maka Ia dapat memerintahkan apa saja.
“Kamu mau kemana? Apa kamu akan bilang bahwa ide tentang tuhan adalah mengada-ada?”
Tidak! Tentu tidak! Tuhan pasti ada. Bila tidak, siapa yang menyusun sandi-sandi super-rumit yang terpetakan dalam DNA? Kode-kode itulah yang membentuk segala macam kehidupan di semesta raya. Mengatakan itu adalah bentukan alam semesta yang tak berkesadaran adalah hal tolol. Setolol ateisme.
“Ya, jadi?”
Tentunya Kesadaran Yang Berkehendak itu ada. Masalahnya apakah Ia membutuhkan segala macam ibadahmu, seonggok makhluk yang disusun oleh kode-kode genetik?
“Tentunya tidak. Ia tak mungkin butuh apa-apa dari saya.”
Nah itu dia! Bayangkan, Kamu adalah hasil perpaduan berbagai kode genetik. Bentuk fisikmu, karaktermu, kebiasaan ngilermu, semuanya ada di DNA-mu! Takdir tiap individu telah tercatat di dalam DNA, sadarkah kamu?
“Oke. Kamu mungkin benar. Hubungannya dengan keimanan saya?”
Keimananmu pada-Nya, pengakuanmu akan keberadaan-Nya, adalah tidak perlu ditunjukkan dalam ritual-ritual itu. Ritual-ritual yang diajarkan oleh agama-agama!
“Oh saya tahu ini. Maksudmu, agama hanyalah instrumen sosial, kan? Saya sudah pernah mendengarnya.”
Tapi kamu tidak paham! Dengarkan, bila kamu telah mencapai kesadaran untuk membatasi tindakanmu, maka tujuan sosial agama telah tercapai. Kamu tahu inti ajaran semua agama, sebelum literaturnya diobrak-abrik untuk kepentingan politik?
“Apa itu?”
Do no harm.
“Kamu timpang! Kamu mereduksi agama. Agama memang adalah instrumen sosial, tapi ia juga mengajarkan konsep hidup abadi. Maksud saya akhirat. Dan inilah yang mesti diimani, sebab manusia tidak dapat melihat akhirat dan mempelajarinya, sebelum ia mencapai akhirat itu sendiri. Dan karenanya, tidaklah rugi untuk mengimani agama. Fungsi sosialnya tercapai, dan bila akhirat memang ada, maka bagi yang mengimani agama dan melaksanakannya akan mendapat tempat yang baik! Surga!”
Lho. Kamu pikir bisa masuk surga karena amalmu? Di agamamu sendiri mengatakan seseorang masuk surga hanya karena ridha-Nya, bukan?
“A..T..K..k..”
Gagap! Kamu tahu kenapa peradaban manusia hanya berputar-putar, tidak bergerak maju? Siklikal? Karena manusia mati-matian mempertahankan kepercayaan, ideologi, agama masing-masing! Kita saling membunuh untuk hal-hal tolol. Inikah yang diinginkan oleh-Nya?
Kemudian senyap beberapa lama.
“Agama pada saatnya memang membebaskan manusia dari kehancuran sosial. Tapi pada perkembangannya, fanatisme manusia menggiring kembali menuju kemerosotan. Ini maksudnya, kan?”
Benar!
“Semua ritual agama fungsinya mempertahankan struktur agama, dimana agama sendiri bertujuan menjaga stabilitas masyarakat, mendirikan pagar-pagar yang membatasi tindakan individu. Bila saya sadar untuk berperilaku sosial yang baik, menjaga hubungan sesama manusia, menolong yang terpinggirkan, mengeritik dan memperbaiki yang semena-mena, maka tujuan agama akan tercapai. Dengan sendirinya, bila akhirat yang saya imani memang ada, maka Tuhan akan meridhai saya ke dalam surga-Nya, walau saya tak mesti berpamrih itu. Begitukah?”
Kamu menyimpulkannya dengan baik.
Saya menatapnya lama. Memperhatikan matanya yang berbinar, rambutnya yang ikal, posisi duduk bersila dengan punggung tegak, nafasnya yang teratur. Saya tersenyum.
Kemudian saya berdiri, melangkah ke pojok lemari, mengambil parang yang nyaris tidak pernah difungsikan, yang tersimpan di bagian terdalam.
“Dalam setiap molekul yang menyusun parang ini, telah tercatat bahwa pada masanya mereka akan menebas untuk menegakkan yang nyaris bengkok,” saya berkata.
Kemudian parang itu saya ayunkan membelah tempurung kepalanya. Saya menebak-nebak di otak bagian kanan manakah terdapat sekumpulan sel yang menerima gelombang-gelombang dari Pusat Kreativitas Semesta. Orang ini terlalu kreatif dalam menerjemahkan agama.
Saya mencerabut sejumput bagian otak. Mungkin inilah segumpal sel itu. Ia tergeletak terkapar tak bergerak dengan mata tetap terbuka. Tanpa ekspresi. Dan ia menjalani semua itu tanpa suara sedikit pun!
Ketika detak jantung saya mulai normal, dan amarah mereda, saya menyadari kamar saya telah bersimbah darah, dan di depan saya teronggok sebuah tubuh yang tak lagi hidup.
Saya mual. Panik. Perut terasa melilit. Berkunang-kunang. Kemudian semua gelap.
***
Menjelang dini hari saya siuman. Setelah memori menyatu, saya lega mendapati kamar bersih. Tak ada darah. Tak ada mayat. Lega sekali.
Tapi jantung saya berdegup kencang lagi ketika menyadari di samping saya tergeletak sebilah parang. Parang yang nyaris tak pernah digunakan, yang harusnya berada di pojok lemari di bagian terdalam.
***
Belum hilang kaget itu, pundak saya ditepuk dari belakang. Saya cepat-cepat menoleh ke arah itu.
Seorang perempuan cantik sedang duduk berlutut menatap saya. Matanya berkedip perlahan seakan menyuruh saya untuk tenang dan menyadarkan diri dari kekagetan.
Tapi kaget itu tak pergi. Saya masih terduduk kaku tak bergerak. Ia kemudian naik duduk di pangkuan saya, sehingga kepalanya lebih tinggi dari kepala saya dan saya harus mendongak untuk melihatnya.
Ia menunduk menatap mata saya dalam. Ia menempelkan telapak tangan yang hangat di kedua belah pipi saya, sehingga mulut saya mengerucut. Senyumnya perlahan hilang dan dengan lirih ia berkata,
“Fanatisme menghancurkan diri… dan masyarakat…”
Semua berangsur menjadi gelap kembali.
Tags: blogdrive
No Comments
Leave a comment