on 6 March 2005 by dodi in Komunikasi, Renungan, Comments (0)
Jawa Adalah Kunci
Telinga saya dibombardir bebunyian yang timbul dari artikulasi khas orang-orang mayoritas negeri ini.
Pada dasarnya tidak ada masalah. Biasa saja. Hanya saja seringkali bebunyian itu terdengar pada jarak dimana percakapan tak bisa ditangkap, kecuali sayup, dan menyerupai suara “bletak-bletuk” tak jelas. Tak jelas karena saya tak paham bahasa jawa, namun terutama karena artikulasi khas itu seringkali memanfaatkan leher bagian dalam untuk menimbulkan aksentuasi tertentu. Kadang-kadang juga bunyi sengau.
Bukan masalah.
Setelah banyak pembicara silih-berganti memberi materi, membuka diskusi dan membagi pengalaman, saya tersadar bahwa hampir semua dari orang-orang hebat yang menjadi ujung tombak media nomor satu nasional ini berbicara dengan aksentuasi serupa. Dan saya terheran menemukan fakta ini: bila diminta mengurutkan pemateri yang remarkable, maka pada urutan teratas daftar saya adalah Pak M, Kak WM, Bu YI dan Mbak HYK, juga Kang G. Kenapa? Semoga bukan karena kelimanya TIDAK berbicara dengan aksenstuasi tersebut.
Kak WM dan Mbak HYK berasal dari timur negeri ini. Sebenarnya agak lucu juga HYK harus dipanggil “Mbak”. Leluhurnya pasti terheran-heran di dunia seberang. Bu YI masih keturunan jawa, tapi karena beliau putri seorang mantan diplomat terkemuka, maka kebiasaan hidup di luar negeri justru membuat aksennya seperti orang asing. Saya rasa ia menguasai beberapa bahasa. O ya, saya ingat pernah membaca beberapa liputannya. Ketika itu saya masih SD!
Kang G, satu-satunya sunda yang saya temui selama masa “belajar dalam kelas” harus menerima kenyataan bahwa orang-orang sering memanggilnya Mas. Kalau bukan lulusan FSRD ITB, mungkin ia tak akan mengurusi desain visual majalah terkemuka media ini. Pak M, reporter senior yang kini mengepalai sebuah divisi. Tampak seperti seorang tua yang bahagia dengan membuat orang-orang tertawa.
Di luar lima orang itu, semua berbicara dengan aksen serupa. Tambahkan bunyi gamelan dan beberapa orang menari, lengkaplah sudah keluhuran musik pentatonis!
Tapi ini juga bisa jadi bukan masalah. Mungkin ini memang gambaran komposisi negara ini. Sebuah miniatur. Kenyataan bahwa pulau jawa menjadi pusat negara. Tidak banyak berubah dari perkataan DN Aidit dalam film propaganda G30S/PKI, “Jawa adalah kunci!”
Sebagai catatan, film ini diputar berulang selama puluhan tahun dan wajib tonton. Berarti pula perkataan “jawa adalah kunci” tersebut berkumandang puluhan tahun. Dan hingga kini jawa memang tetap menjadi kunci. Propaganda yang baik! Terima kasih Aidit! Terima kasih Orba!
Dan pulau jawa, indonesia, didominasi oleh, dari segi bebunyian, bletak-bletuk tadi. Bletak-bletuk ini menyebar dari pucuk eksekutif hingga TKI yang digampari majikannya di Singapura. Dari pergerakan kiri, fasis, islam liberal, teroris hingga intelijen. Dimana-mana ada! Berterimakasihlah pada semboyan “banyak anak banyak rejeki” yang dianut selama ratusan tahun.
Maka tak heranlah bila media ini pun didominasi bletak-bletuk tadi. Sebagai pilar keempat sebuah negara yang didominasi bletak-bletuk, hal ini tidak mengejutkan. Justru dapat menjadi isu berbahaya bila komposisinya tak mirip. Dengan mudah bisa dituduh memiliki agenda tertentu.
Artikel ini TIDAK bertendensi rasis. Bahkan konsep ras tidak bisa dipakai dalam masalah ini in the first place. Bukan, bukan rasis. Bukan juga SARA.
Ini hanya masalah bagaimana aksen itu terdengar seperti bletak-bletuk. Tambahkan gamelan dan orang-orang menari. Hhuahauhauua!
Well, someone has to laugh.
No Comments
Leave a comment