on 21 May 2005 by dodi in Renungan, Comments (0)

Jangan Ketawa karena Tidak Lucu

Masih tentang korupsi.

Saya jadi ingat pada Damin (sebut saja begitu), ketika di suatu siang, berminggu yang lalu, ia menerima saya dan seorang rekan. Berpuluh menit habis untuk meyakinkan bahwa namanya tak akan ditulis. Ia pun bersedia membuka sedikit dari apa yang terjadi.

Apa yang ia ceritakan hari itu, dalam hitungan minggu kemudian menghias seluruh media. Ia sendiri telah membuka kisah ‘sedih’ itu pada KPK, dengan detil yang lebih mengejutkan lagi.

Namun ada yang tak terungkap, walau sebenarnya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari struktur ini. Belum terbahasakan, tepatnya. Dan Damin, saat itu, menjelaskan pada kami.

APBN terlalu rigid, katanya. Padahal pada kenyataannya, pengeluaran keuangan sering tak bisa mengikuti rigiditas APBN.

Intinya sih begitu.

Tapi yang membuat saya terhenyak adalah bahwa pria yang tampak bersahaja dan rajin solat itu terseret pula dalam lubang-lubang struktur. Dan memandang tindakannya sebagai ‘yang terbaik dalam ekosistem yang buruk’.

Bagai Robin Hood, ia membagi-bagikan pula dana gelap itu pada seluruh karyawan institusi itu, dari atas hingga ke bawah. Komisi rekanan, salah satu sumber dana gelap tadi, seringkali tidak sanggup ditolak. Tanpa diminta pun, seakan sudah menjadi konsensus, si rekanan memberi.

Tapi, Pak, sekarang ini tidak ada lagi Robin Hood. Atau, mungkin, legenda Robin Hood itu sendiri tidak lengkap: selain membagi-bagikan pada rakyat, Robin Hood juga menyogok kiri kanan.

Begitu pulalah dana gelap itu mengalir. Ia juga hinggap di tempat-tempat yang salah. Salah, karena itulah yang disebut korupsi.

Namun sekali lagi, struktur memang penuh lubang. Dan lubang-lubang ini menggoda orang-orang untuk masuk ke dalamnya.

Andai saja lubang-lubang itu tertutup.
Atau, gampang saja. Tutup lubang-lubang itu!

Masalahnya, dalam lubang-lubang itu, ada orang-orang yang menghuni. Mereka telah bermetamorfosis menjadi tikus, dan mereka akan balik melawan.

Tutup lubang itu,
dan tikus-tikus melawan.

Masih panjang jalan itu, Pak!

Baca komentar terdahulu

Sebarkanlah, meski hanya satu klik:

Tags: , ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>