on 16 October 2005 by dodi in Jakarta, Ulasan, Comments (0)
Beo dan BBM: Modus Operandi Penipu
“Ya wajarlah. Soalnya (harga) BBM naik,” kata ibu ini. Ketaksetujuan, saya simpan saja dalam hati.

Jadi, Sabtu (16/10) sore kemarin, saya sedang menumpang sebuah angkot yang menuju stasiun Jakarta Kota. Saya berencana menuju halte bis Transjakarta -yang oleh pengelola disosialisasikan sebagai bis Tije, tapi tak memperoleh antusiasme yang cukup- yang terletak di hadapan stasiun Kota.
Sore itu cukup gerah, tapi angin bertiup kencang menyongsong hujan. Lebih ke selatan, langit Jakarta sudah sangat gelap. Orang-orang tampak terburu-buru menghindari limpahan hujan, yang kedatangannya sudah tercium di tengah-tengah cemar udara.
Angkot tak begitu penuh. Selain sopir, penumpang hanya empat termasuk saya. Di depan Harco Mangga Dua, naik seorang pria membawa bungkusan, duduk di kiri saya. Tiga pria lain menyusul satu demi satu, berturut-turut, seiring angkot merambat maju.
Tiba-tiba bungkusan plastik orang di sebelah kiri saya, jatuh. Ia mengambilnya sambil sedikit menggerutu, mengatakan isinya burung beo. Bunyi siul beo melengking. Semua penumpang pun memperhatikan bungkusan itu, termasuk dua penumpang lain yang baru naik.

Orang di sebelah kiri si pemilik beo kemudian membuka pembicaraan, menyatakan tertarik dengan beo itu. Si pemilik pun mempromosikan kebisaan lain si beo menirukan ucapan salam. “Assalaamu’alaikum,” terdengar lagi lengking cempreng beo. Pria lain menimpali, menanyakan harga bila beo itu dijual. “Satu juta lapan ratus,” kata si pemilik. Sisa penumpang, termasuk seorang gadis, perempuan setengah baya, dan seorang pria 30-an tahun, tampak makin tertarik. Mereka tersenyum-senyum mendengar beo yang membeo.
Seorang yang memakai baju merah dan topi bisbol, kemudian meminjam bungkusan itu dan mengintipnya. Lengkingan beo kembali terdengar, mengucap salam-lah, halo-lah, dan berbagai celotehan menakjubkan.
Tapi, tiba-tiba saya tersadar. Pemilik beo dan tiga orang yang ribut-ribut masalah beo itu, semuanya naik angkot dengan jeda yang sebentar. Saya curiga. Dan ketika suara cempreng mengucap salam kembali berkumandang, saya perhatikan betul-betul mulut si pria berbaju merah tadi.
Mulutnya bergerak, tipis sekali. Suara perut yang handal!
Di luar empat (diduga) anggota komplotan-beo dan sopir angkot (sibuk nyopir), lima penumpang lain makin takjub mendengar celoteh beo itu. Semua senyum-senyum. Para anggota komplotan mulai menyebut-nyebut harga. “Wah ini beo bagus, gimana kalo Rp 400 ribu aja,” kata yang duduk di kiri pemilik beo. Edan, dari Rp 1,8 juta jadi Rp 400 ribu.
Tiga orang kawan pemilik beo kemudian menawarkan beo itu pada penumpang. Caranya cukup halus, lah. Seakan-akan tengah bercanda. “Mbak, ini nih, burungnya bagus.” Si cewek senyum-senyum menggeleng. “Engga punya duit.”
Pria di kiri pemilik beo kemudian berkata, “Ya udah lah saya ambil. Tapi kita balik lagi ke Pademangan.” Si pemilik menyambung, “Wah jauh dong. Saya buru-buru. Kalo mau sih disini aja. Terserah deh mo nawar berapa.” Penumpang di kanan saya tampak khusyuk memperhatikan dialog itu. Si baju merah rupanya tahu. Ia pun mendorong orang ini. “Udah tuh pak, ambil aja. Emang punya duit berapa?” tanyanya.
Saya geregetan sekali ketika si bapak di kanan saya ini menyahut, “Cuma ada Rp 200 ribu.” Makin bisinglah angkot dengan “suara-suara beo” yang menakjubkan itu, dan juga dorongan agar si bapak itu membeli. Saya menoleh ke kanan, menyaksikan wajah si bapak yang udah pengen banget punya beo yang bisa bilang assalaamu’alaikum. Sementara itu, penumpang-penumpang lain masih saja bertahan dengan senyum-senyum kagum.
Terdorong rasa geregetan, saya pun menunggu saat yang tepat memotong pancingan komplotan-beo itu. Tentunya, sambil berpikir bagaimana caranya menyunat antusiasme si bapak yang sudah siap merelakan uangnya demi beo super jago itu.
Ketika pria berbaju merah, yang gencar mengompori si bapak, menarik napas di tengah provokasinya, saya pun angkat suara. “Pak,” kata saya. “Saya juga kenal penggemar burung dekat sini, kok. Dia pasti mau beli.”
Si baju merah tampak tertarik. Pemilik, dan dua anggota komplotan lain pun lantas menoleh untuk menyimak tawaran saya. “Ini tempatnya deket kok. Ikut saya aja yok,” kata saya, “ke POLSEK TAMANSARI!”
Komplotan tak menyahut, tapi wajah-wajah mereka sedikit berubah. “Pak Wakapolsek itu senang burung. Tawarin aja ke dia, Ajun Komisaris Polisi Muhammad Kurniawan,” lanjut saya. Pria berbaju merah bertanya, “Rumahnya di mana tuh, si kapolsek?”
“Ngapain ke rumah segala. Ke polseknya aja langsung. Deket kok. Biar seneng kan, bisa jual ama polisi. Kan bisa dapet harga tinggi tuh,” kata saya, sambil menoleh pada pemilik beo. Leher pria berbaju merah bergerak menelan ludah. Si pemilik beo kemudian meminta sopir minggir. Tak dia tegur lagi si bapak sebelah kanan saya yang hampir tertarik pada superbeo itu.
Pria berbaju merah menyusul turun. Di angkot, masih ada dua anggota lain. Salah satunya, yang tadi membuka pembicaraan dengan pemilik superbeo, kini duduk di kiri saya. Saya pun melirik ke dia sambil memiringkan badang, hendak mengambil uang untuk membayar angkot. “Misi, BOS,” kata saya dengan tekanan pada kata ‘bos’. Sok celingak celinguk, dia pun hengkang disusul temannya yang sok sibuk melihat ke depan, belakang, kiri dan kanan.
“Nipu tuh! Mulutnya aja gerak,” kata saya pada penumpang, terutama si bapak sebelah kanan saya. Penumpang lain, yang tampaknya tersadar ketika saya mengajak komplotan ke polsek, langsung timpal menimpali. “Iya tuh, saya juga udah curiga,” kata si bapak di kanan. Dalam hati saya masih geregetan. Hampir kehilangan Rp 200 ribu, masih saja jaga wibawa.
Orang-orang pun membahas. Kok tega, lah. Puasa-puasa gini, lah. Dan segala macam kecaman moral.
Nah, di saat itulah si perempuan setengah baya mengatakan hal yang membuat saya hampir saja mengira dia seekor beo. “Ya wajarlah. Soalnya (harga) BBM naik,” kata ibu ini.
Duh, bu. Plis, atuh lah!
No Comments
Leave a comment