on 14 December 2005 by dodi in Jakarta, Renungan, Comments (0)

Hantu

Ternyata, banyak hantu di sekitar kita. Bayangkan, ada tetangga anda memelihara burung. Suatu hari, tiba-tiba anda melihat di televisi, tetangga anda yang lain menjadi pasien yang tak dipungut biaya. Sebab, dengan gejala sesak, demam dan batuk, ia digelari status suspek flu burung.

Karena kita sedang dalam keadaan luar biasa (KLB) flu burung, semua pasien suspek flu burung dibiayai pemerintah.

Alhasil, di sekeliling rumah anda lahir panik. Tetangga anda yang memelihara unggas memanggil petugas untuk memvaksin hewan bersayap itu. Darah warga pun diperiksa. Semua dihantui ketakutan akan H5N1, virus yang boro-boro kelihatan oleh mata telanjang.

Atau tengok para guru di DKI Jakarta. Setelah sang Gubernur menjanjikan kenaikan tunjangan, para pahlawan berjasa tapi tak bertanda itu tetap saja dilanda cemas. Pertama, tentu saja, apakah janji itu akan terwujud. Kalaupun ya, tarif air minum 2006 toh akan naik. Belum lagi harga kebutuhan pokok. Belum lagi biaya sekolah anak-anak mereka. Guru, yang mengajar di sekolah, harus cemas akan pendidikan anaknya!

Tak heranlah kalau Nelson Siahaan berharap bukan tunjangan yang dinaikkan, tapi gaji pokoknya.

Petani? Wah. Bagi mereka, hantu itu bernama beras impor. Berpuluh tahun percaya ini negara agraris, mereka harus berhadapan dengan kenyataan pahit bahwa beras Vietnam lebih murah harganya dari beras panenan mereka. Lebih pahit lagi: konsumen beras tentu lebih suka yang murah.

Dan pekan ini, hantu itu bertambah lagi. Herman Saksono awalnya hanya iseng. Hasil iseng (sudah dihapus) itu membuat senyum orang-orang yang melihatnya. Di kantor-kantor yang penuh tekanan kerja, senyum melihat karya Herman adalah berkah (sempat menyebar lewat milis-milis).

Tapi, mengganti (mock-up) wajah Mayangsari dengan wajah RI-1 rupanya bukan lelucon untuk KUHPidana. Setidaknya, bagi para penginterpretasinya. Dianggap melanggar klausul penghinaan terhadap presiden, Herman dicokok polisi dan diinterogasi, bahkan dijadikan tersangka.

Mungkin sekarang pun orang harus hati-hati menulis. Terutama para blogger. Siapa yang tahu, gara-gara lelucon, tiba-tiba didatangi aparat! Ah semoga saja Indonesia tak lantas mengikuti jejak Amerika Serikat yang melambaikan tangan pada demokrasi. Bicara tak lagi bebas.

Atau sebenarnya, pernahkah bicara bebas?

Hantuuu!

Baca komentar terdahulu

Sebarkanlah, meski hanya satu klik:

Tags:

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>