on 17 April 2006 by dodi in Renungan, Comments (0)

Di mana Budi dan di mana Ibunya

Keretaapi bergerak dengan kecepatan maksimalnya di atas rel berstandar Indonesia. Di kiri dan kanan, hijau membentang. Sawah, tempat mencuatnya padi yang memberi makan bangsa ini. Pembangunan memberi aksen sesekali, dalam wujud tiang listrik, jalan beraspal, atau bangunan rumah dengan antena menjulang.

Dari dalam gerbong yang sejuk berkat pendingin, tampak mega serupa kapas tersebar di angkasa. Rupanya mereka tak kuasa membendung banjir warna biru yang dipantulkan atmosfer ke bumi. Gerbong itu penuh, tentunya. Khas keretaapi setelah libur panjang akhir minggu. Ada sedikit riuh dari beberapa anak kecil yang bercanda, merengek, atau bertanya ini-itu pada orangtuanya. Untungnya tak bising.

Di gerbong itulah, pada dia (yang dalam hal ini tak signifikan siapa orangnya), saya menceritakan sebuah kisah. Sebuah kisah dari masa lalu. Masa lalu, tentu saja, tak terletak di mana-mana kecuali dalam memori. Atau dalam catatan-catatan yang masing-masingnya mencoba meyakinkan bahwa yang tercatat disitu benar belaka.

Sekitar dua dasawarsa lalu, takdir rupanya membuat saya menyukai mainan yang diberikan orangtua. Mainan itu terdiri dari 26 bentuk huruf, dan 10 bentuk angka. Mungkin ayah maupun ibu bergantian menunjukkan pada saya, yang mana huruf A dan bagaimana melafalkan C. Saya tak yakin saya benar-benar memiliki cukup kesadaran untuk menyenangi huruf-huruf. Entahlah, mungkin semacam insting saja yang membimbing.

Hasilnya, sebelum masuk taman kanak-kanak, saya sudah bisa membaca. Walau seringkali yang dibaca tak memberi makna apa-apa. Di taman kanak-kanak tahun 1985, ketika saya berumur empat tahun, kemampuan membaca tidaklah perlu. Sehari-hari kami hanya bermain. Menggambar. Jalan-jalan. Dan kegiatan menyenangkan lainnya.

Dua tahun berlalu. Beberapa hal terjadi, yang menyebabkan keluarga kami berpindah tempat tinggal. Di kelas 1 sekolah dasar, tahun 1987, kurikulum menggariskan pelajaran membaca bagi siswa. Jadi di kelas, buku berwarna merah tua dibagikan pada kami. Bentuknya persegi panjang. Di dalamnya ada i-n-i i-b-u b-u-d-i dan deretan kalimat singkat lain untuk pelajaran membaca.

Tapi saya sudah bisa membaca. Jadi sementara seluruh kelas bersama-sama mengeja huruf, saya memilih membolak-balik halaman buku. Melihat-lihat gambar yang ada. Melihat-lihat halaman di belakang yang makin dipenuhi huruf. Juga menoleh-noleh ke kiri dan ke kanan juga ke belakang saya. Melihat Pak Guru mengetuk-ngetuk penggaris kayu ke papan tulis.

Tapi rupanya, di tahun 1987, keseragaman adalah keniscayaan. Gerak-gerik saya terpantau oleh Pak Guru. Dia memarahi saya karena tak ikut mengeja. Saya tak melawan. Tak ada gunanya saya berteriak saya sudah bisa membaca. Terlebih lagi, saya rasa, saya tak begitu paham mengapa Pak Guru menjadi gusar saat itu.

Dan di depan kelas, membelakangi papan tulis, tepat di bawah Garuda Pancasila yang diapit foto Pak Presiden Soeharto dan Pak Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah, saya berdiri. Dengan satu kaki terangkat, dan kedua tangan memegang telinga. Pak Guru mengganjar setrap.

Kelas kemudian melanjutkan belajar membaca bersama. Tanpa saya, hari itu. Karena saya harus tetap dalam posisi setrap, yang untungnya dimoderatkan oleh Pak Guru sehingga saya boleh berdiri dengan kedua kaki.

I en i ini. Be u bu, de i di. Ini Budi. I en i, ini. I be u, Ibu. Be u bu, de i di.

Ini Ibu Budi.

Baca komentar terdahulu

Sebarkanlah, meski hanya satu klik:

Tags: ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>