on 4 May 2006 by dodi in fiksi, Jakarta, Comments (0)

Bayangkan

peurihpanon
kredit: Indra Shalihin, detikCom

Puluhan ribu orang berkumpul di depan gedung wakil rakyat –yang mirip kurakura, juga beha– di Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Berderap. Bergemuruh. Lantang. Mendesak. Merangsek.

Berhadapan dengan mereka, pasukan polisi menghadang. Dengan tameng, pentungan, pistol di pinggang, juga penembak gas air mata. Mereka bersepatu lars (yang niscaya keras bila menempel paras). Metro-1 telah mengumandangkan perintah: demonstran yang anarkis, tembak di tempat! Untung tak kejadian.

Eh tapi kok saya jadi mengkhayal ya. Bagaimana bila di tengah demonstrasi buruh, petugas polisi tiba-tiba melepas helmnya, membuang tamengnya, pentungannya dan segala macam tetek-bengeknya. Kemudian bergabung dengan barisan buruh.

“Bosen, ah! Siap-perintah siap-perintah melulu! Saya juga mau gaji naik, komandan!”

“Iya nih, (koman)Dan! Saya capek patroli keliling kota, keliling pom bensin minta BBM gratisan! Udah dilirik sinis ama orang, terima gaji kok seupil!”

“Tambah lagi, Pak! Katanya kita sipil, tapi kok tunduk sana tunduk sini, hormat sana sini. Siap-perintah sana sini. Kok ya agak kurang sipil gitu loh, Dan!”

“Nambahin lagi, Dan! Kok kami-kami, polisi rendahan yang banyak ini, mesti tunduk sama perintah komandan-komandan yang segelintir? Ini namanya eksploitasi borjuis terhadap proletar, Pak!”

Bayangkan. Waduh, bisa kacau ya. Jadi pekerja, jadi petugas, ternyata sama-sama susah!

Lho jadi yang enak siapa? Yang duduk diam di gedung kurakura, tapi dapet amplop?

Baca komentar terdahulu

Sebarkanlah, meski hanya satu klik:

Tags: ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>