on 1 May 2007 by dodi in Jakarta, Comments (12)
We Shall Overcome
Oh deep in my heart, I do believe
We shall overcome someday
Hari Buruh tahun lalu, saya sempat menyaksikan bagaimana kerumunan massa mencoba mendekati Istana Negara. Puluhan ribu orang. Dan hari itu pun berlalu. Massa bubar oleh hujan deras. Bisik-bisik mengatakan, banyak pawang hujan “membantu” mendinginkan apa pun yang panas dalam aksi damai hari itu.
Hari ini, 1 Mei 2007, Hari Buruh datang lagi. Puluhan ribu orang akan turun kembali ke jalanan. Yel, spanduk, sorak-sorai, lagu-lagu, arena joget dadakan, dan apa pun yang bisa terwujud dari massa yang berbaris di jalan protokol.
Maka itu selalu ada rasa cemas. Ribuan, atau juga puluhan ribu, polisi turun ke jalan. Dengan seragam coklat khas mereka, dengan pentungan, tameng, pasti ada pula yang membawa pistol berpeluru tajam. Sejenis kreasi dari logam yang, beberapa kasus menunjukkan, digunakan pula oleh polisi di tempat dan waktu tak tepat. Menembak atasan sendiri atau sipil tak bersalah, misalnya.
Polisi (juga tentara) bukan buruh. Tapi mereka juga ditindas hirarki. Ada kelas-kelas yang tegas dalam korps mereka. Bawahan akan selalu tunduk pada atasannya. Apa yang terjadi ketika legalitas hukum di balik atribut bertemu barisan buruh bereuni tahunan di pusat kota? Mungkin seorang brigadir dua kurus kerempeng menggerakkan kaki, dengan kecepatan tinggi, bersepatu keras, ke pantat buruh terdekat.
Semoga hari ini tak ada kekerasan. Seperti foto di atas. Cermatilah. Rasakan emosi massa dengan satu suara, yang bisa mengirim getar haru ke dalam hati. Bahwa buruh, justru dengan upah yang tak layak, adalah yang membuat kaki kapitalisme negeri ini bisa berdiri.
Maka wahai Pak Presiden, untuk sekali ini saja, keluar dan dengarkanlah apa kata mereka. Lemparkan senyum kakumu, yang akan mereka ingat dan ceritakan dengan bangga pada anak, istri, keluarga dan tetangga di tempat-tempat kumuh mana pun mereka tinggal.
Beberapa orang mungkin akan mengecam Bapak. Tapi biarlah, mereka itu politisi. Jenis manusia yang sudah biasa Bapak hadapi sehari-hari (yang juga menatap balik dari cermin Bapak).
*penulis: buruh juga!
rur
1 May 2007 @ 1:10 am
rasa cemas mah pasti ada. namanya juga ngeliat sekelompok orang “nggak dikenal” disini sana?
semoga aja nggak ada yang membakar emosi mereka hari ini.
kalo nggak… mungkin bukan cuma macet dan susah kemana – mana aja yang kita alami besok.
lika
1 May 2007 @ 1:28 am
oh.. ini toh postingan pembuka yg akan mengguncang web Gravitasi Hidup..
huhu
kayanya besok, eh.. hari ini, Jakarta bakal ujan gede deh..
Gojo
1 May 2007 @ 6:06 am
was wes wos was wes wos
*mbaca doa biar semua aman damai…
btw, penulis juga buruh? bukan! penulis adalah kuli!… mana ada buruh tinta? yang ada adalah kuli tinta… hihihhihihi. Gimana anak dod?
Luthfi
1 May 2007 @ 7:31 am
wah, udah hidup lagi blognya
keduax
arjuna
1 May 2007 @ 11:18 am
misi
saya numpang lewat
ada incoming link masuk ke dashboard wp
ternyata udah idup
ndoro kakung
1 May 2007 @ 8:13 pm
akhirnya … yang ditunggu idup juga. selamat, ah!
andriansah
2 May 2007 @ 1:31 pm
antara kaget dan tidak percaya, ternyata beneran idup lagi ini blog
Tuhu Nugraha Dewanto
2 May 2007 @ 6:20 pm
Wetzzzz yang aktip nyak di up date hehehe
Arfin
3 May 2007 @ 9:04 pm
Meniru anthem piala Champion:
SI SANJAAASSSSSSSS!!!
Bastard
18 March 2008 @ 6:04 pm
Wah, soundtrack hidup gue sehari-hari tahun 2003. Bulan puasa. Masih ada file-nya gak?
dodi
18 March 2008 @ 7:52 pm
Bastard: gue masih nyimpen samwer di harddisk. ada juga di geocities atau apalah, lupa gue. search aja di internet. dengan doa dan usaha, mungkin kau akan menemukannya…
olczij
31 March 2008 @ 7:09 am
i hope. abcba2cada thanks