on 3 June 2007 by dodi in Ulasan, Umum, Comments (12)

The Secret Supper

coverYet another Da Vinci novel? Pertanyaan ini muncul ketika saya melihat sampul novel “The Secret Supper” karangan novelis Spanyol Javier Sierra. Bagaimana tidak, di sampul versi Indonesia tercetak “The Last Supper“, lukisan terkenal karya Leonardo Da Vinci. Yesus duduk di meja panjang, 12 kawan terdekatnya duduk di sampingnya. Enam di kiri, enam di kanan, membentuk kelompok-kelompok yang terdiri dari tiga orang.

Novel ini berfokus ke (proses pembuatan) lukisan karya Da Vinci yang di dinding biara Dominikan Santa Maria delle Grazie, di Milan. Javier Sierra menggunakan tokoh Bapa Agostino Leyre sebagai narator novel ini. Bapa Leyre diceritakan sebagai Inkuisitor Roma pada zaman Paus Alexander VI. Paus korup ini, punya lima putra dan meyakini dirinya sebagai turunan dewa Osiris dari Mesir, adalah tokoh sejarah yang hidup pada 1431-1503.

Bapa Leyre dititah mengunjungi Milan untuk mencari informasi soal heresi (bid’ah) di biara Santa Maria delle Grazie. Kisah ini mengambil latar tahun 1497, 50 tahun setelah Gereja Roma menghabisi kaum Kathar –gerakan heretik yang menolak otoritas Gereja Roma (ya tentunya tidak sesederhana itu).

Novel ini mengklaim mendasarkan 90 persen cerita pada sejarah. Javier Sierra mengajukan sebuah hipotesis menarik soal siapa Leonardo Da Vinci, dan bagaimana statusnya itu mempengaruhi isi lukisan “The Last Supper”. Berbeda dengan Dan Brown, Sierra tidak “mendapuk” Da Vinci sebagai kepala Persaudaraan Sion yang bertugas melindungi warisan Maria Magdalena. Namun, tokoh Maria tetap memiliki peran penting dalam novel ini.

Kalau Brown memikat pembaca dengan anagram, Sierra membuat pembacanya penasaran dengan Ars Memoriae, sebuah seni Yunani Kuno tentang memasukkan pesan-pesan tertentu ke sebuah lukisan. Menarik sekali! The Last Supper rupanya membawa sebuah pesan rahasia yang tersembunyi di balik 13 tokoh di meja perjamuan terakhir.

Mengenai munculnya Da Vinci di lukisan itu, sebagai Yudas Tadeas (bukan Yudas Iskariot), juga dibeberkan latar belakangnya di novel ini. Sierra menceritakan bahwa Da Vinci melukis wajah Yohanes paling akhir. Rasul Yohanes ini, dalam buku Dan Brown yang mengutip penemuan sebelumnya, diungkapkan sebagai Maria Magdalena. Novel ini menceritakan siapa yang dipilih Da Vinci sebagai model Yohanes –di lukisan duduk di kanan Yesus. Kepala biara sempat bertanya pada Da Vinci kenapa Yohanes dilukis mirip perempuan. Da Vinci ngeles dengan cantik.

Kontroversi novel ini mungkin ada pada Interrogatio Johannis, alias Injil Yohanes. Injil ini, menurut Sierra di akhir cerita, ditemukan pada 1945 di hulu Sungai Nil. Tigabelas volume, terjilid dengan kulit, ditulis dalam bahasa Koptik, berisikan ajaran Kristus yang tak dikenal di Barat. Sierra bahkan menuliskan bagian awal injil ini di novelnya. Dikenal dengan nama Injil Gnostik, Gereja menolak mengakui injil ini.

Siapa Leonardo Da Vinci? Apa hubungan The Last Supper dengan Yohanes? Mengapa Da Vinci melukis dirinya di tengah Plato dan Marsilio Ficino (1433-1499) si pendiri Akademi Florence –tempat Renaisans “terlahir”? Mengapa kaum Kathar menolak Gereja Roma? Bla bla bla? Dam dam dam? BACA AJA BUKUNYA!

Yang pasti, ini bukan yet another Da Vinci novel seperti saya duga sebelumnya. Saya rasa, novel ini tidak ingin se-”kafir” Da Vinci Code. Mungkin juga karena penerjemah Indonesianya, FX Dono Sunardi, paham betul bagaimana membahasakan novel ini tanpa harus mengguncang iman namun tetap menggugah nalar, dengan tidak mereduksi muatan novelnya.

Sudah ya. Saya mo ngembaliin bukunya ke perpustakaan.

catatan: The Secret Supper versi Indonesia diterbitkan Serambi pada Maret 2007. Aslinya terbit pada 2004, sudah cetak di 39 negara.

Sebarkanlah, meski hanya satu klik:

Tags: ,

12 Comments

  1. devishanty

    4 June 2007 @ 1:06 pm

    tidak sekafir davinci code?? emang davinci code kafir ya?? kata aku ngga, hehehehehe ya tergantung iman masing2 kali yaaaa..
    sebelum dibalikin aku pinjem dong dod huhu di comic corner ada ga ya wew

  2. cta

    4 June 2007 @ 1:12 pm

    minjem!

  3. Raffaell

    4 June 2007 @ 2:27 pm

    Wah, kurang tertarik dengan yang berbau bau begitu, huhuhuhu, lebih suka yang sains fiction….

  4. dodi

    4 June 2007 @ 5:18 pm

    devi&cta: telat! udah dibalikin!

    raffael: SF rocks juga. novel indonesia jarang tuh. ada dulu “Hymne angkasa raya” atau sejenisnya.

  5. lika

    5 June 2007 @ 5:33 pm

    jadi kesimpulannya bagus atau ngga?
    *lemot*
    pinjem lagi dari perpus dod, trs fotokopi. ahahaha..
    harganya berapa yg versi indonesianya??

  6. dodi

    5 June 2007 @ 10:26 pm

    lika: buku dibikin tebel2 hanya utk berakhir dengan penilaian “bagus” atau “jelek”, kok kayaknya kejam yak. hehehhe.

    harga versi indonesia, kurang jelas juga. secara saya bacanya gratis dari perpus.

    sekian.

  7. kuda

    7 June 2007 @ 3:22 pm

    huh. bacanya fiksi. gak sesue umur. nanti anakmu jadi pelukis lho (???)

    eh dod, itu di blogroll “budiyono” yang mafia berkeley itu ya?

  8. jellyjuice

    8 June 2007 @ 8:14 pm

    hmmm..hmmm…ck..ck..ck

  9. ichanx

    10 June 2007 @ 7:10 pm

    serius dod? gw ama temen gw yg katolik ampe diceramahin abis2an untuk nerangin bahwa yang ditulis di davinci code adalah boong. Kalo buku ini gw kasih ke dia gimana ya? hehehe

  10. reiger

    27 October 2007 @ 1:20 am

    gue..udh baca buku ini, dan menurut gue buku ini lumayan kerenlah buat jd temen dikamar, sambil mengimajinasikan seluruh ceritanya..
    dan tentang injil yohanes yg membuat gue bergidik terkejut dan mengagumi novel ini..

  11. geri

    30 October 2008 @ 5:07 pm

    bagus mana sama kamasutra?

  12. dewi linggasari

    2 March 2009 @ 11:06 am

    Trims resensinya, novelnya pasti saya cari untuk menggenapi fiksi sejarah dunia.

    Salam

    Dewi

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>