on 6 November 2007 by dodi in Renungan, Comments (16)

Bukan Guru Agama

Sebut saja namanya Sam. Di pertengahan 30 usianya. Kulitnya gelap. Kumis tebal tumbuh–bila tak bisa disebut menghiasi wajah. Sam sudah berkeluarga, beranak dua dan menikmati pekerjaannya sebagai wartawan.

Mata Sam agak sipit. Dua gigi depannya besar dan agak maju, tapi belum masuk kategori tonggos. Dilihat sekilas, dia tampak seperti menyungging senyum tipis. Badannya tegap walau tingginya hanya lebih sedikit dari 160 cm. Suara baritonnya tak bisa lepas dari klutuk logat jawa.

Seorang rekannya, berusia lebih tua, pernah menertawai Sam. “Makin kulihat, makin mirip guru agama kau,” kata si Abang ini, dengan logat batak kentalnya. Celetukan itu mengundang tawa orang-orang lain yang mendengar. Sam hampir selalu memakai kemeja lengan pendek motif kotak, celana kain, sepatu pantofel (kadang sepatu kets!), dan tas berbentuk persegi yang digantungkan di sebelah bahu. “Tas seminar” ini, entah bagaimana, berhasil diasosiasikan dengan “guru agama”.

Di beberapa kesempatan sesudahnya, celetukan itu diulang lagi oleh si Abang maupun yang lain. Baik dengan maupun tanpa kehadiran Sam, ledekan “guru agama” itu terdengar lucu. Selalu saja ada yang tersenyum, bahkan tertawa. Sam tak pernah menanggapi bila mendengarnya. Dia hanya tersenyum tipis (karena sekilas memang selalu kelihatan begitu).

Senin kemarin, saya dan seorang rekan sepakat bertemu seorang informan. Kesepakatan diutarakan sambil bercanda dan tertawa. Sam mendengar rencana itu, dan menyatakan ingin ikut. “Ayo Pak Guru Agama,” kata saya, lantas tertawa, sambil mulai melangkah.

Tapi ujung kerah jaket saya seperti tersangkut sesuatu dari sebelah kanan. Sekian milidetik tak peduli, saya menoleh ke kanan. Wajah Sam tampak dekat dan… tersenyum tipis. Hm, _tampak_ tersenyum. Soalnya, ujung jemari tangan kirinya menjepit kerah jaket saya. “Jangan gitu, dong. Nggak lucu.”

Rombongan kami tetap berjalan, dan tak ada yang mengira Sam marah. “Ha, kenapa?” saya bertanya. “Guru agama, guru agama. Jangan bilang gitu dong. Saya kan nggak suka,” kata Sam. Saya hentikan langkahnya sambil tertawa (karena mengulang “guru agama” itu rasanya lucu). Tapi dia sama sekali tidak tertawa!
“Lho, Mas Sam marah?”
“Lha iya, masak dibilang gitu.”
*diam sekian detik* “Duh Mas, Sori. Kirain Mas santai aja dibilang gur.., eh..”
“Ya ngga gitu. Saya lebih marah lagi sama si Abang (batak tea), tapi belum ketemu waktunya saja,” katanya berterus terang.
“Wah Mas, saya mohon maaf deh. Saya nggak nyangka Mas segitunya,” kata saya, yang sudah merasa bersalah. Tak lupa saya menepuk punggungnya untuk mengademkan. Dia pun minta maaf atas reaksinya.

Sam, secara singkat, kemudian bercerita soal ketersinggungannya akan olok-olok itu. “Guru Agama”. Sekali-dua masih oke, tapi lama-lama membuatnya kesal, rupanya. Setelah curhat singkat itu, dia tak lagi pundung. Lepas sedikit bebannya, rupanya.

Insiden “Guru Agama” ini membuat saya agak merenung. Sam menjadi korban verbal bullying, tapi diam saja. Tentu saja, silence isn’t golden when you’re holding it inside. Dan hari itu, seperti Kelud yang batuk, Sam juga melepas sedikit kesalnya.

Kali ini, saya merasa seperti anak SD yang mendapat nasihat dari guru agama.

*gambar: www.pusatsouvenir.com

Sebarkanlah, meski hanya satu klik:

16 Comments

  1. Raffaell

    6 November 2007 @ 7:57 am

    wah….. singkat dan penuh makna… lah itu kok tag nya keluar ?

  2. M Fahmi Aulia

    6 November 2007 @ 11:23 am

    du du du…
    :-”

    kaya yg pernah gw bahas kan Dod??

    du du du…
    :-”

    btw, itu tag2 kok masih nongol?

  3. ***

    6 November 2007 @ 11:47 am

    waduh bagus banget ceritanya, terkadang kita menjadi SAM tapi diwaktu yang lain kita menjadi di bataq, ini lah kehidupan , makanya di butuhkan kehati-hatian dalam bersikap agar tidak menyinggung orang lain.

  4. arjuna

    8 November 2007 @ 8:26 am

    ada banyak hal yang kita pendam dan sering ditahan hanya demi menghormati orang lain, walaupun orang lain itu cenderung tidak menghormati kita

  5. rd Limosin

    8 November 2007 @ 1:31 pm

    jadi inget pas SD, sering teman² saling mengejek dengan memanggil nama orang tua masing²

  6. cta

    8 November 2007 @ 6:52 pm

    makin lama kalo mendeskripsikan sesuatu kamu jadi semakin detail, tapi anehnya si sayah malah makin sulit membayangkan..

    OOT, maap.. hohohoho..

    yaa.. gapapalah.. seenggaknya kita tau, Sam berusaha menghormati dirinya (dengan ngomong jujur dia ga suka) tapi tetep menghormati orang lain juga (dengan menunggu momen yang tepat). contoh yang baik.. hmm..hmmm..

  7. Arfin

    8 November 2007 @ 8:52 pm

    SAM=Samuel Tulus Mangunsong? Bukan kan dot? Hehehe…

  8. dodi

    8 November 2007 @ 10:38 pm

    Raffael: udah diberesin :)
    Engkoh: err yg mana ya? hihi yoi yoi gw masih inget!
    tub: tag curhat mana hoi
    rd Lim: waks, itu berlanjut ampe smp
    cta: kalau gitu problemnya ada di anda. coba jgn ngelamun yang engga2 ttg si Sam ini.
    Arfin: bukan. itu mah STM. Arfin udah lulus STM blm?

  9. dewi

    9 November 2007 @ 8:43 am

    verbal bullying.. masalahnya, seringnya kita ga sadar udah bullying orang laen. memang lebih baek klo ada keterbukaan gini, jadi sakit ati ga lama2, dan yg mem-bully juga cepet2 sadar :D

    dan iyah dodo, sayah masih di bali.. jadi kirim kue nya khan?

  10. Tuhu Nugraha Dewanto

    9 November 2007 @ 11:40 am

    Hmmm perenungan yang bagus, cara menulisnya juga okss banget.

  11. .\Dogol

    9 November 2007 @ 5:02 pm

    Hummm… mengapa ‘guru agama’ menjadi sebuah pengertian negatif?

  12. finkz

    11 November 2007 @ 5:33 am

    haha. iyey.. panggil orang pake sebutan yg paling baek, makanya ehehe :P

  13. ikez

    13 November 2007 @ 10:44 am

    guru agama gue waktu SD galak2, dari yang kumisan tinggi besar, sampe yang gemuk bibir judes mata tajam… pernah kena jewer, dipukul penggaris, sampe dilempar penghapus papan tulis.

    *memory*

  14. ichanx

    1 December 2007 @ 8:06 pm

    gw mah pengen disebut guru agama, atau ustadz, atau sekalian kyai… tapi gw selalu jadi korban verbal bullying… orang malah nyebut gw penyebar ajaran sesat… bahkan mimpin baca doa tiap briefing di kantor aja gak boleh…. hahaha

  15. fikriyathir

    2 August 2008 @ 12:47 pm

    yup! verbal bullying, stereotyping! sucks!

  16. harikuhariini

    14 January 2009 @ 10:37 pm

    silence isn’t golden. Yup. kalo silence is golden, tiap akhir bulan gw bakalan rajin2 silence deh.. haha..
    salam yah ama si Sam itu

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>