on 1 December 2007 by dodi in Renungan, Umum, Comments (19)
Menengok ke Belakang
Sistem pencernaan manusia menyerap semua hal-hal yang dibutuhkan tubuh. Residu alias ampasnya dibuang melalui sekresi maupun ekskresi. CMIIW, semoga tidak ada yang salah.
Proses tersebut berlangsung sepanjang hari. Di tengah pekerjaan, sesekali kita harus berhenti untuk beranjak ke toilet. Jamban. WC (water closet). Kita juga mengenal locus buang hajat itu sebagai “belakang”, entah kenapa dan sejak kapan.
Rupanya “belakang” adalah eufemisme jamban. Istilah yang, seingat saya, sering dipakai di sekolah. Misalnya: “Pak, izin ke belakang.” Setelah Pak Guru mengizinkan, murid keluar dari kelas menuju “ke belakang”. Bukan ke belakang kelas, tapi ke jamban. Kenapa bukan “ke depan”, “ke samping”, atau “ke tengah”?
Padahal di sekolah sering terdengar semboyan Tut Wuri Handayani. Artinya kira-kira yang di belakang yang memberi dorongan.
Orang bule memberi istilah yang lebih enak untuk kompleks jamban. Dibilangnya “rest room”. Di hotel-hotel berbintang, atau di kompleks perkantoran, rest room sering benar-benar nyaman. Tak salah kalau disebut ruang istirahat.
Nah, di sebuah kantor swasta di bilangan Jakarta Selatan, saya menemukan ‘fenomena’ aneh. Tempat “ke belakang” yang tak luas tapi bersih. Begitu masuk, ada wastafel, tempat sabun cair dan cermin. Di sebelah kanan ada pintu ke ruang toilet duduk. Di depan ada ‘pintu koboi’ menuju toilet berdiri–khusus pria.
Anehnya, di sebelah toilet-berdiri ini ada tempat sabun cair. Padahal di ruangan yang sama tidak ada wastafel. Entah siapa yang punya ide tak berguna itu. Setelah melepas urin, saya kira agak aneh bila ada orang mencuci tangan di guyuran air toilet itu. Huek. Dan, sangat kecil pula kemungkinan ada orang mengeluarkan sabun cair, mendorong pintu koboi dengan siku atau tangan sebelah, dan menyalakan air di wastafel luar. Repot sekali, padahal di wastafel luar juga ada tempat sabun cair.
Bukan saya saja yang berpikir bahwa ide menaruh tempat sabun cair itu tak ada gunanya. Bisa dilihat sendiri di foto, sabun di dalamnya tetap ada di batas teratas. Tak terpakai oleh penunai hajat yang masuk silih berganti. Sama tak bergunanya dengan link “download Internet Explorer”, misalnya.
rara
2 December 2007 @ 6:39 am
Lho kan berguna bagi mereka yang “puasa”, Dod..
*kabur ke bulan*
Luthfi
2 December 2007 @ 7:35 am
kali2 aja ada yg mau nyabunin t*t*tnya
didut
3 December 2007 @ 8:34 am
hahaha~ lucu juga
M Fahmi Aulia
3 December 2007 @ 10:26 am
istilah belakang, merujuk pada posisi wc, yg rata2 berada di belakang.
coba tengok ke gedung2 lama, atau rumah2 jadul (terutama yg buatan belanda). seringkali jamban di letakkan jauh di belakang…
atau kalao mau paling ekstrim, kaya bekas rumah nenek-kakek gw di bali…begonoh…
Arfin
3 December 2007 @ 4:47 pm
Dilihat dari warnanya sih Dot kemungkinan besar itu semacam sirup strawberry atau sabun yg biasa digunakan untuk membuat balon yg dijual di pinggiran jalan.
Gunanya mungkin untuk bermain2 balon sabun ketika sedang menunggu air seni habis.kan ada jeda waktu antara buka resleting-pipis-cebok-tutup resleting yg rata2 orang mungkin menghabiskan waktu hingga 3-5 menit tergantung daya tampung tangki.
Lumayan kreatip…
cta
3 December 2007 @ 4:58 pm
di kantor aku kamar mandinya malah di depan.. heuehuehuehue
achilz
4 December 2007 @ 2:29 pm
Huahahhahahahaha
)
Sabun cair di toilet Cowok??? Ehm…. *piktor
poetra
9 December 2007 @ 5:46 am
lebih aneh lagi kalo di bandung, disebut ‘ke aer’.
“bentar ya, mau ke aer..”
btw, itu termasuk salah satu pengejawantahan alokasi dana akhir tahun barangkali ya. Lazimnya kan memang begitu, menggunakannya untuk sesuatu yang gak berguna, hehe
atta
9 December 2007 @ 5:33 pm
hahahaha

berbahagialah orang-orang yang peduli pada banyak hal-hal kecil
btw kita ternyata pernah bertemu ya
di tempat astri di rumah sakit waktu itu
kalau saja aku tahu itu kamu, pasti sudah kudapatkan tandatanganmu
selamat menjadi bapak -hug-
dodi
9 December 2007 @ 8:50 pm
hi Atta! hehehe ternyata bertemu tapi gak tau..
thx ya..
sa
10 December 2007 @ 4:22 am
sabunnya utk mbersihin cipratan di dinding salah tujuan atuh.
maklumlah.. kadang si tangan ga pinter ‘mengarahkan’
bangbadi
11 December 2007 @ 3:08 am
Iya aneh banget tuh idenya. Tapi mungkin maksudnya baik, laki2 Indonesia kan suka bersihin “itunya” sehabis kencing biasanya mereka ambil air dari toilet berdiri itu loch. He-he-he.
siwoer
11 December 2007 @ 4:17 pm
ngabisin budjet kaleee, soalnya udah kebeli, dan yang depan udah dipasang, so pasang aja di toliet?! siapa tau ada yang mau mencuci keris pusaka
Raffaell
13 December 2007 @ 11:06 am
Saya baru lihat hal semacam ini, hahaha, lucu
omith
20 December 2007 @ 10:23 am
hi dody … wah lama ga pena tau kabar..
hihih…masi inget ga ya lo ..
dah merid n dah punya anaks..hihi selamat ya atas keluarga barunya..
[di pesta blogger jg datang ya hmm ga ketemu yha??]
ichanx
22 December 2007 @ 9:35 pm
dod… jangan terlalu serius kerja teh atuh euy… hayo apdet ini blog kamuh… kangen ingin baca tulisan seuseurian tapi tajam dan mengena khas eluh… hehe
sandyjust4today
28 December 2007 @ 7:50 am
Bnu…
mustinya yang disimpan disamping tempat kiih (kencing) itu bak pasir penghilang nazis…
tabik!
[BY]onicS
25 January 2008 @ 7:03 am
mungkin sabun itu bisa digunakan untuk mandi, dari kucuran kecil yang keluar dari tempat pembuangan urin. mungkin.
lina
7 July 2009 @ 4:34 pm
memeng dunia ini pangung sandiwara, ketemu toilet yang aneh gitu masih mending di pakai cowok,kalau ngikiti sesamaan hak bisa apes kaum peerempuan ,hahaha