on 1 August 2009 by m.dodi in Ulasan, Umum, Comments (21)
Film Merantau: Silat Bukittinggi, Sutradara Inggris
Kapan terakhir kali nonton film Indon ciat-gedebuk? Lupa persisnya, tapi saya ingat beberapa tahun lalu ada gelombang sinetron silat. Ceritanya seperti di komik-komik silat jadul. Kalo tak salah, ada juga sinetron laga dengan bintang Roger Danuarta, ya?
Tapi sekarang ada film Merantau . Trailernya sudah beredar sejak tahun lalu. Di situsnya diceritakan segala macam soal proyek film Rp 15 miliar dengan sutradara Inggris, Gareth Evans, itu.
Beberapa hari lalu saya ikut menonton filmnya, yang resmi masuk bioskop (Blitz?) mulai 6 Agustus. Kesan akhir singkat: laganya memang betul dahsyat. Internesyenel, dah.
Filmnya lumayan lama, hampir 2,5 jam. Satu jam terakhir betul-betul padat dengan laga pencak silat. Di gang-gang kecil, dalam klab malam, di jembatan penyeberangan orang, di kompleks rusun (Rusun Klender), di atap gedung, duel dalam lift, hingga dua lawan satu pamungkas sebagai puncak film.
Koreografi tarungnya memang diarahkan oleh ahli silat. Bintang-bintangnya pun bermodal penguasaan dasar ilmu bela diri, termasuk Iko Uwais, memerankan tokoh utama Yuda.
Yuda, dari kampungnya di Bukittinggi yang hijau nian, memutuskan merantau, yang digambarkan sebagai tradisi kehormatan seorang lelaki. Cita-citanya mengajar silat di Jakarta kampret ini.
Di Jakarta, dia malah bertemu Astri (Sisca Jessica, tampak fisik seperti versi beta Agnes Monica), penari yang dikuras duitnya oleh bos klab, Johni (Alex Abbad). Johni hendak menjual Astri ke sindikat pedagang pecun (yang mengekspor cewe-cewe pake.. kontainer!), yang mana tentu saja Yuda mati-matian mencegah.
Dengan situasi itu, tentu saja puluhan tukang pukul berdatangan sepanjang film mencegat Yuda. Saking sibuknya berlaga, Yuda sepanjang film tak pernah berganti pakaian. Semakin lama durasi film, makin dekil bajunya.
Film ini untuk dewasa! Membawa anak menonton The Dark Knight masih lebih mulia. Di Merantau, darah berceceran di mana-mana. Walau warnanya sering mirip sirop, tapi yang tak biasa menonton acara kriminal atau tayangan korban bom Marriott 17/7 di teve, bisa mual dan terkaget-kaget.
Ada juga setumpuk kosa kata makian yang muncul di film. Binatang berlompatan dari mulut si germo Johni. Astri sendiri sangat gemar mengucap “taiik!” yang hampir semuanya ditujukan pada Johni.
Waktu saya menonton film ini, di layar terpampang pula subtitel Bahasa Inggris yang terjemahannya sering tak persis dengan maksud yang kita pahami. Untungnya saya Indon, jadi tak begitu butuh subtitel itu. Di awal film yang bertabur bahasa Padang, subtitel juga tak tepat. Lebih baik tanyalah ke orang Padang terdekat.
Sekali lagi, ini film laga. Jadi, sekitar satu jam pertama, ingat-ingatlah ini. Yakinlah bahwa rentetan ciat gedebuk bakal segera datang. Tak usah berharap si Astri bakal stripping. Juga tak ada romansa fisik yang maksa, kok. Oh ya, kalau di film lain aparat selalu terlambat datang, di film ini malah tak datang-datang. Jangankan polisi, satpam pun gak ada. Agak aneh juga karena, setahu kita, gagal maupun suksesnya sindikat demikian sangat butuh peran aparat.
Saya rasa, film ini wajib ditonton karena tata laga yang dahsyat–dengan pencak silat yang ditegaskan sebagai pusaka Indonesia (bukan Malaysia). Sinematografi adalah bonusnya: keren bukan hanya saat adegan laga, tapi juga saat mengeksploitasi keindahan Bukittinggi.
Semoga saja ada sineas nasional yang menyusul membuat film laga yang beneran merah-putih. Minimal naskah, dialog dan konfliknya jadi beneran terasa Indonesia-nya. Masak warga gak berkerumun pas ada yang bonyok/bertumbangan? Wisata musibah kan budaya kita.
- Beberapa cuplikan adegan yang teringat:
- Yuda lapar dan mencari makan di warung terdekat. Ditanya sama Mas Warung, mau makan apa. “Sate padang, Pak,” kata Yuda.
- Johni heran kenapa Yuda begitu ngotot melindungi Astri. Kata Johni, “Cantik sih, tapi secantik pecun-pecun lain.”
- Yuda dikejar penjahat yang menunggangi motor. Untuk menghambat pengejar, segala barang yang ditemukan dilemparkan. Di ujung gang, ada orang lewat bawa handuk dan gayung. Yuda menyabet ujung handuk. Pemilik handuk refleks menangkap ujung lain untuk menahan handuknya dijambret. Nah handuk pun terbentang, menjegal leher pengejar bermotor. Yuda cabut, meninggalkan pemilik handuk yang tampangnya bengong pooool buanget.
Selamat menonton, lah. *pegel anjeeeh ngetik dari hape!*
Posted by Wordmobi
Tags: bioskop, Blitz Megaplex, film
kunderemp
1 August 2009 @ 5:20 pm
Nggak kok.. teks terjemahan Bahasa Inggrisnya tepat. Tetapi terjemahannya memang tidak kata perkata.
Teks terjemahan memang untuk orang Barat, jadi untuk menjembatani budaya.
Misalnya, ketika Christine Hakim mengatakan, “itu kewajiban kami sebagai orang tua”, orang Barat tidak mengerti apa hubungannya peran sebagai orang tua dengan menyiksa anaknya sendiri dengan kata-kata yang tidak enak. Tetapi ketika diterjemahkan “this is our duty to community”, orang Barat yang tidak paham jadi mengerti bahwa seperti itu adat, bahwa menjadi orang tua di negeri ini memiliki kewajiban untuk mewariskan adat.
Meneer van Yoewizzzz
2 August 2009 @ 12:19 pm
Nice posting…
Jd penasaran ma film’a…
Pngn cpt2 nonton lah…
Harus’a film indonesia kyk gni…
Jgn bisa’a buat horror-bugil mulu…
denai
2 August 2009 @ 4:38 pm
“Untungnya saya Indon, jadi tak begitu butuh subtitel itu.”
Indon????
Eh lu orang malingshit ya??
marlena
2 August 2009 @ 6:47 pm
g tau kali dia apa arti kata itu..
makanya seenak jidat dia ajah
arjuna
2 August 2009 @ 7:33 pm
wahahahaha.indon.bwahahaha
batak
3 August 2009 @ 12:28 am
bengak
harigato
3 August 2009 @ 9:03 am
ikut senang deh ada yang mau ngangkat budaya indonesia….
tapi lagi-lagi kayaknya kita kalah start dengan thailand…
kalo gak salah silatnya laganya mirip-mirip di ong bak..(kalau gak salah nih. tapi syukurlah ada yang peduli
wahyoe
3 August 2009 @ 10:36 am
Wahh…, gw udh lihat Trailerx, wow…kerenn..bgt, mulai dr grafisx, pemandanganx d Bukittinggi, indah dan menyejukkan mata, adegan silatx, pokokx keren deh..bgt..bgt..n..bgt..
.kayak gini nih film Indonesia, pa gi mengangkat kebudayaan Indonesia, dari Sumbar.
.bukanx film cinta mulu, syuting d luar negri, klo bsa org luar yg syuting d Indo, untux bsa nambah devisa Negara, truz horrorrr…2 gk jelaz, pa gi komedi porno yg gk b’bobot.
.ni film WAJIB d tonton, maju terus Budaya Indonesia, jgn ampe d akui negara laen.
jasa design web
3 August 2009 @ 1:07 pm
asal jangan sampe kaya film2 indosiar aja :p
zulist
3 August 2009 @ 1:32 pm
hip-hip hura…akhirnya ada juga film sekelas ongbak…sama sepeti ong baak 1, tony jaa juga tidak sempat ganti baju…., juga sama2 merantau ke kota..
Ismail
3 August 2009 @ 5:29 pm
Buat yang punya web ini dan ngereview film merantau.. thanks banget yah.. semakin penasran sama filmnya..
Trus ada satu hal, jangan pake kata indon untuk mempersingkat Indonesia… karena kata indon adalah kata yang digunakan sama orang malaysia untuk mengejek Indonesia… bisa di katakan orang2 malaysia yang benci sama Indonesia dia memanggil Indonesia dengan indon…
Makanya beberapa komen di atas mengira kamu orang malingshit(malaysia maksudnya) hehehe
okky
9 August 2009 @ 1:17 pm
scene nya di nagari Balingka yg termasuk kabupaten Agam,, tapi dari daerah ini nampak jelas seluruh kota Bukittinggi + ngarai sianok,, hijau dan indah apalagi udaranya cool bgt,,
ua
9 August 2009 @ 1:25 pm
bukan ah di sungai puar
http://www.west-sumatra.com/index.php?option=com_ybggal&Itemid=27&pdisp=editor&picid=3597
dian ina
10 August 2009 @ 11:45 am
ini beneran rusun klender? udah cek sendiri? tanya langsung sama yang tinggal di sana? nanti ketuker lagi rusunnya dengan yang deket masjid al furqon.
anak minag
11 August 2009 @ 10:02 am
bangga bgt gw sebagai anak minang,selain meangkat budaya minang,syutingnya juga d ranah minang nan den cinto,,,
tapi yf nulis articel ini org maba yah??? nio den sumbek muluiknyo tu samo lado kutu,bia ndak mangecek indon se lai… sakik hati bana ko mandanganyo ha…
ryosaeba
11 August 2009 @ 11:23 am
buat yang sangat mempermasalahkan kata “indon”. ok kalian tahu artinya. ok emang artinya merendahkan. tapi kepikir gak sih, makin kalian marah, sumpah serapah, menyalahkan sang penulis kata ini, ya makin tercapai tujuan mereka, kita marah-marah, mereka ketawa-ketawa.
grow up. show them that we don’t care, we even use it to describe ourselves. kasihan sekali orang-orang yang tidak bisa menertawakan diri sendiri. laugh with them, then we can even laugh AT them.
dave
31 August 2009 @ 7:22 pm
gooood!!!gw sendiri udah nntn filmnya!!!!!!sangking senengnya abis nntn gw promosiin di rmh!!!!eh mala di ketawain org rmh!!!!!!!ktnya yg nmx film indo jelek!!!!!yg wong gak nonton gimn,,,,,,???????mngkin mereka udah terlanjur,dongkol ma film ido yg kmrnn!!!!tp nurut gw!!!!!film ini keren bgt,coba dunia kyk gitu enak qta …..gak ada polisinya hehehehe
ROBIN BAGINDO
2 October 2009 @ 11:31 pm
bisa gak ya saya ikut ngusulin,, saya juga buat naskah/skenario, kabuik bukik bunian.. yang mnjunjung tinggi rasa kbrsamaan, menghormati org tua, perempuan, religi, budaya, serta ada sedikit horornya,,,
cantika felder
6 December 2009 @ 10:12 pm
Film Merantau benar-benar membuat saya terkesima. Indonesia dapat membuat film laga yang bisa dijajarkan dengan film-film dari luar. Saya berharap sutradara-sutradara Indonesia dapat membuat karya-karya yang tidak kalah bagusnya dengan film Merantau
mukh
2 May 2010 @ 11:59 pm
ada kurangny..
pilemnya gak punya visi misi,. berantem ampe mati buat nyelamatin wanita yg gak dikenalny.. aneh
wara
1 December 2010 @ 2:17 pm
gak masalah di panggil indon, kayak brit buat brittish….
hahaha… pelemnya baaaaggusssss….. siipppp!!!!