<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Gravitasi Hidup &#187; Renungan</title>
	<atom:link href="http://gravity.web.id/category/renungan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gravity.web.id</link>
	<description>..di kota yang tak kunjung redup</description>
	<lastBuildDate>Tue, 05 Oct 2010 14:31:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Renungan Dahsyat Soal Rokok dan Kecupuan</title>
		<link>http://gravity.web.id/2008/03/13/renungan-dahsyat-soal-rokok-dan-kecupuan/</link>
		<comments>http://gravity.web.id/2008/03/13/renungan-dahsyat-soal-rokok-dan-kecupuan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Mar 2008 18:29:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsumen]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[rokok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gravity.web.id/2008/03/13/renungan-dahsyat-soal-rokok-dan-kecupuan/</guid>
		<description><![CDATA[Perasaan cupu kadang muncul di lubuk hati terdalam seorang manusia. Untungnya peradaban mewariskan kita... rokok.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya menumpang merokok di ruang IT. Ini salah satu kamar asap, alias tempat bebas merokok, di pabrik kami. Seorang staf IT pamit pulang setelah beres-beres sebentar. Memanggul ranselnya, dia meninggalkan ruangan itu.</p>
<p>Tak berapa lama, dia kembali lagi. Ada yang tertinggal, rupanya. Dia membuka lacinya. &#8220;Rokok ketinggalan. Ntar cupu dong gue,&#8221; kata dia, tertawa, lalu kembali bergegas pergi. Hehe. Sempat terpikir oleh saya, masa-masa merasa cupu alias culun punya, bila tak merokok, sudah lama sekali berlalu.</p>
<p>Malamnya, saya bertemu rekan-rekan <a href="http://id-gmail.info">Kampung Gajah</a> di Setiabudi One. Acara malam itu: pembagian paket kaos (bayar woi). Puluhan orang berkumpul, terpisah dalam kelompok-kelompok kecil perbincangan, sambil menunggu EO membagi jatah paket. Seorang rekan berceletuk, &#8220;Kalau rame gini, malah jadi bingung gue.&#8221;</p>
<p>Saya pun (kembali) bersiap membakar rokok. Daripada bengong tak ada kerjaan, selain berbincang sambil menunggu, mending sambil ngerokok. Sambil sesekali teringat beberapa tugas yang belum tuntas, atau hal-hal di rumah. Dan saat itulah saya teringat perkataan staf IT pabrik beberapa jam sebelumnya. &#8220;Gak ngerokok, cupu rasanya.&#8221;</p>
<p>Anjrit.</p>
<p>Dalam kepala, muncul berbagai flashback ingatan situasi-situasi lain, saat saya mulai memantik api menyulut rokok. Sebagian besar adalah saat-saat menunggu orang maupun sesuatu. Ya, saat-saat bengong itulah. Saat-saat merasa tak banyak hal lain yang bisa dilakukan. Otak saya nyaris memberi tag &#8220;cupu&#8221; pada semua memori itu. Untung, saya sempat mengaktifkan software Denial v2.1.</p>
<p>Wah. Jangan-jangan semua iklan rokok itu berisi pesan terselubung.<br />
Musikku keras, kopiku kental, rokokku nikmat untuk teman bengong.<br />
How low can you go before you realize you&#8217;re feeling cupu?<br />
Welcome to Marlboro Country, where there&#8217;s no cupuness.<br />
Yang penting, rasanya gak cupu Bung!<br />
Gak ada rokok lo, gak rame malah cupu.</p>
<p>Maka lihatlah negeri ini!</p>
<p><em><br />
img: connietalk.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gravity.web.id/2008/03/13/renungan-dahsyat-soal-rokok-dan-kecupuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>(Kartu) Natal Membawa Damai</title>
		<link>http://gravity.web.id/2007/12/25/kartu-natal-membawa-damai/</link>
		<comments>http://gravity.web.id/2007/12/25/kartu-natal-membawa-damai/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Dec 2007 19:01:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[memori]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gravity.web.id/2007/12/25/kartu-natal-membawa-damai/</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana sebuah kartu natal mendamaikan dua orang yang berselisih? Ikuti kisah menegangkan dan penuh intrik ini!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di &#8216;kota&#8217; yang dinginnya menusuk tulang itu, keriaan menjelang Hari Natal selalu terasa bahkan sejak Desember masih muda. Hiasan khas Natal bisa dilihat di tempat-tempat umum. Kertas krep hijau tua yang dibentuk mirip tumpukan daun (cemara); kapas putih meniru salju; dan bola-bola merah, perak serta emas, yang digantung di pohon natal. Di pucuknya ada hiasan bintang atau boneka malaikat.</p>
<p>Rumah tetangga yang menunggu natal mudah dibedakan dengan yang tidak merayakan. Biasanya rumah mereka dihias lampu berkelap-kelip, atau hiasan natal digantung di pintu rumah. Pohon plastik ditarik dari gudang dan kembali menghias ruang tamu.</p>
<p>Saat itu saya masih SD, sekitar kelas dua-tiga. Di sekolah, teman-teman yang menunggu natal rutin berlatih menyanyi untuk misa di gereja. Di rumah-rumah yang semuanya tersambung paralel ke parabola kota, saluran-saluran teve berbahasa asing juga diwarnai tema natal.</p>
<p>Ibu saya menyarankan&#8211;dengan agak ngotot&#8211; agar mengirim kartu natal untuk Toni, teman Kristen terdekat saya. Saya pun menulis di sebuah kartu bergambar pohon natal. Opsi penyerahan kartu: simpan di meja di kelas, atau antar ke rumah, ya?</p>
<p>Natal makin dekat, sekolah diliburkan. Maka, hari-hari diisi dengan bermain. Suatu sore, saya dan teman-teman berjanji bertemu di lapangan di samping <em>Sport Hall</em>. Kartu Natal untuk Toni saya selipkan di balik baju&#8211;belum tahu kapan akan diberi. Terima kasih untuk temperatur Tembagapura, susah sekali berkeringat pada suhu tak sampai 20 derajat celcius. Kartu natal tak lepek atau basah.</p>
<p>Entah bagaimana awalnya, saya dan Toni terlibat adu mulut yang berakhir dengan dorong-mendorong (gaya anak SD, lah). Teman-teman melerai, untungnya. Bila ditimpa badan Toni yang gemuk, saya memang bisa gepeng.</p>
<p>Permainan kami bubar. Saya pun beranjak pulang sambil kesal. Teringat kartu natal, saya berbalik lagi ke arah Toni. &#8220;Nih, buat kau,&#8221; sambil melempar amplop berisi kartu natal ke arah Toni. Dia memungut amplop yang sudah agak lecek itu dari tanah berpasir sisa <em>tailing</em>.</p>
<p>Saya sudah berbalik arah lagi saat Toni memanggil-manggil sambil berlari menyusul. Badan gemuknya berguncang-guncang. Wajahnya sumringah, merah dan berhias senyum. &#8220;Ini buat saya?&#8221; kata dia tak percaya. Saya mengiyakan. Toni senang sekali. Sepanjang umurnya yang saat itu belum 10 tahun, sepertinya itu kartu natal pertama yang ditujukan khusus buat Toni.</p>
<p>Permusuhan lenyap seketika. Kami pulang bareng bersama teman-teman lain. Saya tiba di rumah dengan perasaan lega dan senang. Makin senang lagi setelah dipuji Ibu (karena menyerahkan kartu natal). Rasanya, hmm, seperti mengalami sendiri cerita di Majalah Bobo. Tentunya, perselisihan kecil tadi tak saya ceritakan ke Ibu. Yah, buat apa berfokus pada hal tak perlu (yang bisa membuat Ibu mengomel), ihihih.</p>
<p>Dua dekade berlalu. (Hidup, tentu saja, makin kompleks.) Toni kini berdiam di negeri Abang Sam. Sudah cukup lama kami tak berkontak lagi. Tapi, harapan saya di Hari Natal tetap sama: semoga hati yang saling berselisih menemukan perdamaian.</p>
<p>&lt;gambus&gt;<br />
<em>Perdamaian, perdamaian,<br />
perdamaian, perdamaian.<br />
Perdamaian, perdamaian,<br />
perdamaian, perdamaian.</em><br />
&lt;/gambus&gt; [1]</p>
<p><strong>Selamat Natal 2007. Semoga kasih mengisi hati kita semua, agar damai di bumi!</strong></p>
<p>[1]&#8220;Perdamaian&#8221;. Ciptaan Abu Ali Haidar. Group Nasyida Ria, 198x.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gravity.web.id/2007/12/25/kartu-natal-membawa-damai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menengok ke Belakang</title>
		<link>http://gravity.web.id/2007/12/01/menengok-ke-belakang/</link>
		<comments>http://gravity.web.id/2007/12/01/menengok-ke-belakang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Dec 2007 15:13:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[hotel]]></category>
		<category><![CDATA[kantor]]></category>
		<category><![CDATA[wc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gravity.web.id/2007/12/01/menengok-ke-belakang/</guid>
		<description><![CDATA[Sistem pencernaan manusia menyerap semua hal-hal yang dibutuhkan tubuh. Residu alias ampasnya dibuang melalui sekresi maupun ekskresi. CMIIW, lho!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sistem pencernaan manusia menyerap semua hal-hal yang dibutuhkan tubuh. Residu alias ampasnya dibuang melalui sekresi maupun ekskresi. <a title="CMIIW Me If I'm Wrong">CMIIW</a>, semoga tidak ada yang salah.</p>
<p>Proses tersebut berlangsung sepanjang hari. Di tengah pekerjaan, sesekali kita harus berhenti untuk beranjak ke toilet. Jamban. WC (water closet). Kita juga mengenal locus buang hajat itu sebagai &#8220;belakang&#8221;, entah kenapa dan sejak kapan.</p>
<p>Rupanya &#8220;belakang&#8221; adalah eufemisme jamban. Istilah yang, seingat saya, sering dipakai di sekolah. Misalnya: &#8220;Pak, izin ke belakang.&#8221; Setelah Pak Guru mengizinkan, murid keluar dari kelas menuju &#8220;ke belakang&#8221;. Bukan ke belakang kelas, tapi ke jamban. Kenapa bukan &#8220;ke depan&#8221;, &#8220;ke samping&#8221;, atau &#8220;ke tengah&#8221;?</p>
<p>Padahal di sekolah sering terdengar semboyan Tut Wuri Handayani. Artinya kira-kira yang di belakang yang memberi dorongan.</p>
<p>Orang bule memberi istilah yang lebih enak untuk kompleks jamban. Dibilangnya &#8220;rest room&#8221;. Di hotel-hotel berbintang, atau di kompleks perkantoran, rest room sering benar-benar nyaman. Tak salah kalau disebut ruang istirahat.</p>
<p>Nah, di sebuah kantor swasta di bilangan Jakarta Selatan, saya menemukan &#8216;fenomena&#8217; aneh. Tempat &#8220;ke belakang&#8221; yang tak luas tapi bersih. Begitu masuk, ada wastafel, tempat sabun cair dan cermin. Di sebelah kanan ada pintu ke ruang toilet duduk. Di depan ada &#8216;pintu koboi&#8217; menuju toilet berdiri&#8211;khusus pria.</p>
<p><img src="http://img.photobucket.com/albums/v142/siapacoba/toilet.jpg" align="left" height="320" width="240" />Anehnya, di sebelah toilet-berdiri ini ada tempat sabun cair. Padahal di ruangan yang sama tidak ada wastafel. Entah siapa yang punya ide tak berguna itu. Setelah melepas urin, saya kira agak aneh bila ada orang mencuci tangan di guyuran air toilet itu. Huek. Dan, sangat kecil pula kemungkinan ada orang mengeluarkan sabun cair, mendorong pintu koboi dengan siku atau tangan sebelah, dan menyalakan air di wastafel luar. Repot sekali, padahal di wastafel luar juga ada tempat sabun cair.</p>
<p>Bukan saya saja yang berpikir bahwa ide menaruh tempat sabun cair itu tak ada gunanya. Bisa dilihat sendiri di foto, sabun di dalamnya tetap ada di batas teratas. Tak terpakai oleh penunai hajat yang masuk silih berganti. Sama tak bergunanya dengan link &#8220;download Internet Explorer&#8221;, misalnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gravity.web.id/2007/12/01/menengok-ke-belakang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan Guru Agama</title>
		<link>http://gravity.web.id/2007/11/06/bukan-guru-agama/</link>
		<comments>http://gravity.web.id/2007/11/06/bukan-guru-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Nov 2007 21:05:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gravity.web.id/2007/11/06/bukan-guru-agama/</guid>
		<description><![CDATA[Sebut saja namanya Sam. Di pertengahan 30 usianya. Kulitnya gelap. Kumis tebal tumbuh&#8211;bila tak bisa disebut menghiasi wajah. Sam sudah berkeluarga, beranak dua dan menikmati pekerjaannya sebagai wartawan. Mata Sam agak sipit. Dua gigi depannya besar dan agak maju, tapi belum masuk kategori tonggos. Dilihat sekilas, dia tampak seperti menyungging senyum tipis. Badannya tegap walau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebut saja namanya Sam. Di pertengahan 30 usianya. Kulitnya gelap. Kumis tebal tumbuh&#8211;bila tak bisa disebut menghiasi wajah. Sam sudah berkeluarga, beranak dua dan menikmati pekerjaannya sebagai wartawan.</p>
<p>Mata Sam agak sipit. Dua gigi depannya besar dan agak maju, tapi belum masuk kategori tonggos. Dilihat sekilas, dia tampak seperti menyungging senyum tipis. Badannya tegap walau tingginya hanya lebih sedikit dari 160 cm. Suara baritonnya tak bisa lepas dari klutuk logat jawa.</p>
<p>Seorang rekannya, berusia lebih tua, pernah menertawai Sam. &#8220;Makin kulihat, makin mirip guru agama kau,&#8221; kata si Abang ini, dengan logat batak kentalnya. Celetukan itu mengundang tawa orang-orang lain yang mendengar. Sam hampir selalu memakai kemeja lengan pendek motif kotak, celana kain, sepatu pantofel (kadang sepatu kets!), dan tas berbentuk persegi yang digantungkan di sebelah bahu. &#8220;Tas seminar&#8221; ini, entah bagaimana, berhasil diasosiasikan dengan &#8220;guru agama&#8221;.</p>
<p>Di beberapa kesempatan sesudahnya, celetukan itu diulang lagi oleh si Abang maupun yang lain. Baik dengan maupun tanpa kehadiran Sam, ledekan &#8220;guru agama&#8221; itu terdengar lucu. Selalu saja ada yang tersenyum, bahkan tertawa. Sam tak pernah menanggapi bila mendengarnya. Dia hanya tersenyum tipis (karena sekilas memang selalu kelihatan begitu).</p>
<p>Senin kemarin, saya dan seorang rekan sepakat bertemu seorang informan. Kesepakatan diutarakan sambil bercanda dan tertawa. Sam mendengar rencana itu, dan menyatakan ingin ikut. &#8220;Ayo Pak Guru Agama,&#8221; kata saya, lantas tertawa, sambil mulai melangkah.</p>
<p>Tapi ujung kerah jaket saya seperti tersangkut sesuatu dari sebelah kanan. Sekian milidetik tak peduli, saya menoleh ke kanan. Wajah Sam tampak dekat dan&#8230; tersenyum tipis. Hm, _tampak_ tersenyum. Soalnya, ujung jemari tangan kirinya menjepit kerah jaket saya. &#8220;Jangan gitu, dong. Nggak lucu.&#8221;</p>
<p>Rombongan kami tetap berjalan, dan tak ada yang mengira Sam marah. &#8220;Ha, kenapa?&#8221; saya bertanya. &#8220;Guru agama, guru agama. Jangan bilang gitu dong. Saya kan nggak suka,&#8221; kata Sam. Saya hentikan langkahnya sambil tertawa (karena mengulang &#8220;guru agama&#8221; itu rasanya lucu). Tapi dia sama sekali tidak tertawa!<br />
&#8220;Lho, Mas Sam marah?&#8221;<br />
&#8220;Lha iya, masak dibilang gitu.&#8221;<br />
*diam sekian detik* &#8220;Duh Mas, Sori. Kirain Mas santai aja dibilang gur.., eh..&#8221;<br />
&#8220;Ya ngga gitu. Saya lebih marah lagi sama si Abang (batak tea), tapi belum ketemu waktunya saja,&#8221; katanya berterus terang.<br />
&#8220;Wah Mas, saya mohon maaf deh. Saya nggak nyangka Mas segitunya,&#8221; kata saya, yang sudah merasa bersalah. Tak lupa saya menepuk punggungnya untuk mengademkan. Dia pun minta maaf atas reaksinya.</p>
<p>Sam, secara singkat, kemudian bercerita soal ketersinggungannya akan olok-olok itu. &#8220;Guru Agama&#8221;. Sekali-dua masih oke, tapi lama-lama membuatnya kesal, rupanya. Setelah curhat singkat itu, dia tak lagi <em>pundung</em>. Lepas sedikit bebannya, rupanya.</p>
<p>Insiden &#8220;Guru Agama&#8221; ini membuat saya agak merenung. Sam menjadi korban <em>verbal bullying</em>, tapi diam saja. Tentu saja, <em>silence isn&#8217;t golden when you&#8217;re holding it inside</em>. Dan hari itu, seperti Kelud yang batuk, Sam juga melepas sedikit kesalnya.</p>
<p>Kali ini, saya merasa seperti anak SD yang mendapat nasihat dari guru agama.</p>
<p>*gambar: www.pusatsouvenir.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gravity.web.id/2007/11/06/bukan-guru-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepertujuh Umur</title>
		<link>http://gravity.web.id/2007/05/19/sepertujuh-umur/</link>
		<comments>http://gravity.web.id/2007/05/19/sepertujuh-umur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2007 17:14:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[bioskop]]></category>
		<category><![CDATA[buruh]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gravity.web.id/2007/05/19/sepertujuh-umur/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah dua hari libur tiap pekan, kebanyakan orang akan memulai aktivitas pada senin. Kebetulan, saya tak tergolong orang-orang itu. Hari libur saya bisa jatuh kapan saja. Kadang pada sabtu, minggu, saya bekerja. Senin bisa saja saya libur. Senin memang ajaib. Kesepakatan sosial tentang kalender bisa memaksa berbagai kalangan bangun pagi-pagi. Pekerja kantoran yang terjangkit sindrom [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://img.photobucket.com/albums/v142/siapacoba/garfieldWinCE.jpg" alt="Garfield" title="Garfield" align="left" />Setelah dua hari libur tiap pekan, kebanyakan orang akan memulai aktivitas pada senin. Kebetulan, saya tak tergolong orang-orang itu. Hari libur saya bisa jatuh kapan saja. Kadang pada sabtu, minggu, saya bekerja. Senin bisa saja saya libur.</p>
<p>Senin memang ajaib. Kesepakatan sosial tentang kalender bisa memaksa berbagai kalangan bangun pagi-pagi. Pekerja kantoran yang terjangkit sindrom antisenin sejak minggu pagi; pegawai negeri yang lenyap dari meja sejak jumat siang; mahasiswa tingkat pertama yang biasanya banyak kuliah pagi; pelajar yang tak boleh telat masuk gerbang sekolah; pialang saham yang selalu bermimpi menonton pertarungan beruang dan banteng. Semua bertemu di tengah macet jalan raya.</p>
<p>Sungguh aneh. Sepertujuh dari umur orang-orang terpakai untuk keresahan senin, saat pekan mulai sibuk. Dan juga pikiran bahwa masih ada empat hari setelahnya, sebelum akhirnya libur lagi. Maka itu, bioskop menjual tiket murah pada senin. Agar semua energi negatif terbuang saat menatap kain besar persegi, ditemani jagung dan minuman ringan yang buruk untuk kesehatan makhluk hidup manapun.</p>
<p>Tentu saja, kesenangan kalian di bioskop itu adalah kekesalan bagi karyawan bioskop. Mereka benci senin dengan ukuran yang sulit dipahami. Sebab mereka harus menghadapi antrian pengejar tiket murah. Pelajar sekolah yang berisik dan tertawa-tawa dengan kekerasan bunyi yang berbahaya bagi gendang telinga; rombongan penonton yang kecewa kursinya kurang satu sehingga mereka harus terpisah.</p>
<p>Calon penonton mengantri tiada henti. Selalu ada orang bertanya, seakan tidak tahu apa fungsi poster besar film dan jadwal teater yang dipampang. Atau pasangan pacaran yang saling ber-terserah-kamu-aja di depan loket. Baik saat hendak memilih film, maupun ketika memilih tempat duduk.</p>
<p>Setelah selesai menonton film, kalian pergi meninggalkan tumpukan sampah. Kotak dan kaleng minuman. Butiran popcorn. Plastik. Petugas mengangkut sampah dan  menyapu secepatnya, karena rombongan penyampah baru akan segera masuk.</p>
<p>Siapa yang menghibur pekerja bioskop? Sepertujuh umur mereka dibaktikan untuk melegakan penghujung senin kalian!</p>
<p>Hehehe.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gravity.web.id/2007/05/19/sepertujuh-umur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

