<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Gravitasi Hidup &#187; bioskop</title>
	<atom:link href="http://gravity.web.id/tag/bioskop/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gravity.web.id</link>
	<description>..di kota yang tak kunjung redup</description>
	<lastBuildDate>Tue, 05 Oct 2010 14:31:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Film Merantau: Silat Bukittinggi, Sutradara Inggris</title>
		<link>http://gravity.web.id/2009/08/01/film-merantau-silat-bukittinggi-sutradara-inggris/</link>
		<comments>http://gravity.web.id/2009/08/01/film-merantau-silat-bukittinggi-sutradara-inggris/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 07:16:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>m.dodi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[bioskop]]></category>
		<category><![CDATA[Blitz Megaplex]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gravity.web.id/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Kapan terakhir kali nonton film Indon ciat-gedebuk? Lupa persisnya, tapi saya ingat beberapa tahun lalu ada gelombang sinetron silat. Ceritanya seperti di komik-komik silat jadul. Kalo tak salah, ada juga sinetron laga dengan bintang Roger Danuarta, ya? Tapi sekarang ada film Merantau . Trailernya sudah beredar sejak tahun lalu. Di situsnya diceritakan segala macam soal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img border="0" src="http://gravity.web.id/wp-content/uploads/2009/08/merantau.jpg" align="left" alt="merantau.jpg" /> Kapan terakhir kali nonton film Indon ciat-gedebuk? Lupa persisnya, tapi saya ingat beberapa tahun lalu ada gelombang sinetron silat. Ceritanya seperti di komik-komik silat jadul. Kalo tak salah, ada juga sinetron laga dengan bintang Roger Danuarta, ya? </p>
<p> Tapi sekarang ada film <em>  Merantau </em> . Trailernya sudah beredar sejak tahun lalu. Di situsnya diceritakan segala macam soal proyek film Rp 15 miliar dengan sutradara Inggris, Gareth Evans, itu. </p>
<p> Beberapa hari lalu saya ikut menonton filmnya, yang resmi masuk bioskop (Blitz?) mulai 6 Agustus. Kesan akhir singkat: laganya memang betul dahsyat. Internesyenel, dah. </p>
<p> Filmnya lumayan lama, hampir 2,5 jam. Satu jam terakhir betul-betul padat dengan laga pencak silat. Di gang-gang kecil, dalam klab malam, di jembatan penyeberangan orang, di kompleks rusun (Rusun Klender), di atap gedung, duel dalam lift, hingga dua lawan satu pamungkas sebagai puncak film. </p>
<p> Koreografi tarungnya memang diarahkan oleh ahli silat. Bintang-bintangnya pun bermodal penguasaan dasar ilmu bela diri, termasuk Iko Uwais, memerankan tokoh utama Yuda. </p>
<p> Yuda, dari kampungnya di Bukittinggi yang hijau nian, memutuskan merantau, yang digambarkan sebagai tradisi kehormatan seorang lelaki. Cita-citanya mengajar silat di Jakarta kampret ini. </p>
<p> Di Jakarta, dia malah bertemu Astri (Sisca Jessica, tampak fisik seperti versi beta Agnes Monica), penari yang dikuras duitnya oleh bos klab, Johni (Alex Abbad). Johni hendak menjual Astri ke sindikat pedagang pecun (yang mengekspor cewe-cewe pake.. kontainer!), yang mana tentu saja Yuda mati-matian mencegah. </p>
<p> Dengan situasi itu, tentu saja puluhan tukang pukul berdatangan sepanjang film mencegat Yuda. Saking sibuknya berlaga, Yuda sepanjang film tak pernah berganti pakaian. Semakin lama durasi film, makin dekil bajunya. </p>
<p> Film ini untuk dewasa! Membawa anak menonton The Dark Knight masih lebih mulia. Di Merantau, darah berceceran di mana-mana. Walau warnanya sering mirip sirop, tapi yang tak biasa menonton acara kriminal atau tayangan korban bom Marriott 17/7 di teve, bisa mual dan terkaget-kaget. </p>
<p> Ada juga setumpuk kosa kata makian yang muncul di film. Binatang berlompatan dari mulut si germo Johni. Astri sendiri sangat gemar mengucap &#8220;taiik!&#8221; yang hampir semuanya ditujukan pada Johni. </p>
<p> Waktu saya menonton film ini, di layar terpampang pula subtitel Bahasa Inggris yang terjemahannya sering tak persis dengan maksud yang kita pahami. Untungnya saya Indon, jadi tak begitu butuh subtitel itu. Di awal film yang bertabur bahasa Padang, subtitel juga tak tepat. Lebih baik tanyalah ke orang Padang terdekat. </p>
<p> Sekali lagi, ini film laga. Jadi, sekitar satu jam pertama, ingat-ingatlah ini. Yakinlah bahwa rentetan ciat gedebuk bakal segera datang. Tak usah berharap si Astri bakal stripping. Juga tak ada romansa fisik yang maksa, kok. Oh ya, kalau di film lain aparat selalu terlambat datang, di film ini malah tak datang-datang. Jangankan polisi, satpam pun gak ada. Agak aneh juga karena, setahu kita, gagal maupun suksesnya sindikat demikian sangat butuh peran aparat. </p>
<p> Saya rasa, film ini wajib ditonton karena tata laga yang dahsyat&#8211;dengan pencak silat yang ditegaskan sebagai pusaka Indonesia (bukan Malaysia). Sinematografi adalah bonusnya: keren bukan hanya saat adegan laga, tapi juga saat mengeksploitasi keindahan Bukittinggi. </p>
<p> Semoga saja ada sineas nasional yang menyusul membuat film laga yang beneran merah-putih. Minimal naskah, dialog dan konfliknya jadi beneran terasa Indonesia-nya. Masak warga gak berkerumun pas ada yang bonyok/bertumbangan? Wisata musibah kan budaya kita. </p>
<p> 
<ul>  Beberapa cuplikan adegan yang teringat:  <br /> 
<li>   Yuda lapar dan mencari makan di warung terdekat. Ditanya sama Mas Warung, mau makan apa. &#8220;Sate padang, Pak,&#8221; kata Yuda.  </li>
<li>   Johni heran kenapa Yuda begitu ngotot melindungi Astri. Kata Johni, &#8220;Cantik sih, tapi secantik pecun-pecun lain.&#8221;  </li>
<li>   Yuda dikejar penjahat yang menunggangi motor. Untuk menghambat pengejar, segala barang yang ditemukan dilemparkan. Di ujung gang, ada orang lewat bawa handuk dan gayung. Yuda menyabet ujung handuk. Pemilik handuk refleks menangkap ujung lain untuk menahan handuknya dijambret. Nah handuk pun terbentang, menjegal leher pengejar bermotor. Yuda cabut, meninggalkan pemilik handuk yang tampangnya bengong pooool buanget.  </li>
</ul>
<p> Selamat menonton, lah. *pegel anjeeeh ngetik dari hape!* </p>
<p>Posted by <a href="http://wordmobi.googlecode.com">Wordmobi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gravity.web.id/2009/08/01/film-merantau-silat-bukittinggi-sutradara-inggris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepertujuh Umur</title>
		<link>http://gravity.web.id/2007/05/19/sepertujuh-umur/</link>
		<comments>http://gravity.web.id/2007/05/19/sepertujuh-umur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2007 17:14:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[bioskop]]></category>
		<category><![CDATA[buruh]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gravity.web.id/2007/05/19/sepertujuh-umur/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah dua hari libur tiap pekan, kebanyakan orang akan memulai aktivitas pada senin. Kebetulan, saya tak tergolong orang-orang itu. Hari libur saya bisa jatuh kapan saja. Kadang pada sabtu, minggu, saya bekerja. Senin bisa saja saya libur. Senin memang ajaib. Kesepakatan sosial tentang kalender bisa memaksa berbagai kalangan bangun pagi-pagi. Pekerja kantoran yang terjangkit sindrom [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://img.photobucket.com/albums/v142/siapacoba/garfieldWinCE.jpg" alt="Garfield" title="Garfield" align="left" />Setelah dua hari libur tiap pekan, kebanyakan orang akan memulai aktivitas pada senin. Kebetulan, saya tak tergolong orang-orang itu. Hari libur saya bisa jatuh kapan saja. Kadang pada sabtu, minggu, saya bekerja. Senin bisa saja saya libur.</p>
<p>Senin memang ajaib. Kesepakatan sosial tentang kalender bisa memaksa berbagai kalangan bangun pagi-pagi. Pekerja kantoran yang terjangkit sindrom antisenin sejak minggu pagi; pegawai negeri yang lenyap dari meja sejak jumat siang; mahasiswa tingkat pertama yang biasanya banyak kuliah pagi; pelajar yang tak boleh telat masuk gerbang sekolah; pialang saham yang selalu bermimpi menonton pertarungan beruang dan banteng. Semua bertemu di tengah macet jalan raya.</p>
<p>Sungguh aneh. Sepertujuh dari umur orang-orang terpakai untuk keresahan senin, saat pekan mulai sibuk. Dan juga pikiran bahwa masih ada empat hari setelahnya, sebelum akhirnya libur lagi. Maka itu, bioskop menjual tiket murah pada senin. Agar semua energi negatif terbuang saat menatap kain besar persegi, ditemani jagung dan minuman ringan yang buruk untuk kesehatan makhluk hidup manapun.</p>
<p>Tentu saja, kesenangan kalian di bioskop itu adalah kekesalan bagi karyawan bioskop. Mereka benci senin dengan ukuran yang sulit dipahami. Sebab mereka harus menghadapi antrian pengejar tiket murah. Pelajar sekolah yang berisik dan tertawa-tawa dengan kekerasan bunyi yang berbahaya bagi gendang telinga; rombongan penonton yang kecewa kursinya kurang satu sehingga mereka harus terpisah.</p>
<p>Calon penonton mengantri tiada henti. Selalu ada orang bertanya, seakan tidak tahu apa fungsi poster besar film dan jadwal teater yang dipampang. Atau pasangan pacaran yang saling ber-terserah-kamu-aja di depan loket. Baik saat hendak memilih film, maupun ketika memilih tempat duduk.</p>
<p>Setelah selesai menonton film, kalian pergi meninggalkan tumpukan sampah. Kotak dan kaleng minuman. Butiran popcorn. Plastik. Petugas mengangkut sampah dan  menyapu secepatnya, karena rombongan penyampah baru akan segera masuk.</p>
<p>Siapa yang menghibur pekerja bioskop? Sepertujuh umur mereka dibaktikan untuk melegakan penghujung senin kalian!</p>
<p>Hehehe.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gravity.web.id/2007/05/19/sepertujuh-umur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RI-2 ke Bioskop</title>
		<link>http://gravity.web.id/2007/05/07/ri-2-ke-bioskop/</link>
		<comments>http://gravity.web.id/2007/05/07/ri-2-ke-bioskop/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2007 03:45:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[bioskop]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[kalla]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gravity.web.id/2007/05/07/ri-2-ke-bioskop/</guid>
		<description><![CDATA[Suatu Ahad sore, seorang pria memutuskan untuk mengajak cucu-cucunya menonton film di bioskop. Tak ada yang istimewa, bila si pria itu bukan wakil presiden RI. Ini kasus khusus. Bila RI-2 ke bioskop, pasti ikut pula rombongannya. Termasuk juga pengamanan khusus orang penting. Staf-stafnya pun sibuk kiri-kanan. Selain mengurus keamanan, beberapa tokoh dipanggil pula. SMS undangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://img.photobucket.com/albums/v142/siapacoba/Nagabonar1.jpg" align="left" />Suatu Ahad sore, seorang pria memutuskan untuk mengajak cucu-cucunya menonton film di bioskop. Tak ada yang istimewa, bila si pria itu bukan wakil presiden RI.</p>
<p>Ini kasus khusus. Bila RI-2 ke bioskop, pasti ikut pula rombongannya. Termasuk juga pengamanan khusus orang penting. Staf-stafnya pun sibuk kiri-kanan. Selain mengurus keamanan, beberapa tokoh dipanggil pula.</p>
<p>SMS undangan pun menyebar dari telepon genggam seorang staf wapres. Kabarnya, bunyinya seperti ini: &#8220;Undangan terbatas: diharapkan kehadirannya pkl. 20.00 malam ini menyaksikan film nagabonar 2 bersama Jk &amp; menteri2 serta pemeran utamanya di bioskop 21 setiabudi building kuningan tks.&#8221;</p>
<p>Petugas keamanan dibuat sibuk. Di bioskop 21 Setiabudi One itu, pastilah pengamanan khusus sudah berjaga sejak sejam sebelumnya. Dan satu jam sebelum itu, laporan situasi pasti sudah diterima. Ini protokol biasa.</p>
<p>Polisi patroli pengawal pun harus cepat-cepat membuat skenario keberangkatan rombongan RI-2 dari istana, ke bioskop, dan perjalanan pulang ke rumah. Ketika rombongan berangkat ke bioskop, semua jalur yang akan dilewati &#8220;Rangkaian Bima&#8221; mesti steril. Artinya, orang-orang yang membawa kapak merah diminta menyingkir. Pengguna jalan dengan granat dan dinamit digiring untuk menjauh.</p>
<p>Jusuf Kalla memilih mengajak cucu-cucunya menonton Nagabonar Jadi 2. Setiabudi One terjadwal memutar film Supirdelman Jadi 3 (Spiderman 3) di dua teaternya. Mungkin karena sepi atau memang telat nonton saking sibuknya jadi wapres, Kalla memilih menonton film lain.</p>
<p>Teater 3 Setiabudi pun disewa seluruhnya. Bioskop ini dikenal bukan daerah kekuasaan ABG, jadi petugas pengamanan wakil presiden tidak perlu memuntahkan peluru-peluru tajam.</p>
<p>Selain keluarga, pejabat-pejabat juga ikut dalam rombongan Kalla. Ada Menteri Sosial, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional, Menteri Pertanian dan Menteri Perindustrian. Mungkin mereka berniat mencontoh cara Bonaga (Tora Sudiro) mengendalikan perusahaan &#8211;yang siapa tahu bisa dipraktekkan di departemen mereka.</p>
<p>Hamid Awaluddin, bekas Menteri Hukum dan HAM, juga hadir. Wajahnya tak banyak senyum saat makan bersama sebelum masuk bioskop. Begitulah kalau kita ikut mengurusi uang orang pakai rekening negara. Tapi mungkin juga bukan karena itu parasnya kecut.</p>
<p>Rombongan politisi juga datang. Tentunya orang-orang Partai Golongan Karya &#8211;partai bentukan militer di masa lalu, yang kini dikuasai sipil dengan dua kubu utama. Salah satu politisi yang datang adalah si brewok Surya Paloh, bos media yang pernah nyalon jadi RI-1. Kini, mungkin, dia cukup bahagia korannya jadi tempat pengumuman tender-tender pemerintah.</p>
<p>Hingga pukul sebelas malam, rombongan itu khusyuk menonton. &#8220;Film yang luar biasa. Kalau filmnya lebih lama satu jam lagi, saya bersedia duduk dan menonton,&#8221; kata Jusuf Kalla dengan logat batak yang kental (oh, tentu tidak!).</p>
<p>O ya. Kalau wakil presiden nonton film, dia juga bisa menghadirkan bintang-bintang utamanya. Deddy Mizwar, sutradara sekaligus pemeran utama Nagabonar Jadi Dua, duduk di samping Kalla. Pemeran Bonaga, Tora Sudiro, juga datang menonton. Bercelana jins, tentu.</p>
<p>Hmm. Kalau wapres memilih menonton Spiderman 3, apa Peter Parker dan Mary Jane juga bakal hadir?</p>
<p><em>*dari <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2007/05/07/brk,20070507-99515,id.html" title="tempointeraktif">tnr</a> dan <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/05/tgl/06/time/213037/idnews/776856/idkanal/10" title="detikCom">dtk</a><br />
**foto dari <a href="http://foto.detik.com">detikfoto</a> oleh Ari Saputra. ga pake izin, dong.<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gravity.web.id/2007/05/07/ri-2-ke-bioskop/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

