<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Gravitasi Hidup &#187; buruh</title>
	<atom:link href="http://gravity.web.id/tag/buruh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gravity.web.id</link>
	<description>..di kota yang tak kunjung redup</description>
	<lastBuildDate>Tue, 05 Oct 2010 14:31:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Sepertujuh Umur</title>
		<link>http://gravity.web.id/2007/05/19/sepertujuh-umur/</link>
		<comments>http://gravity.web.id/2007/05/19/sepertujuh-umur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2007 17:14:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[bioskop]]></category>
		<category><![CDATA[buruh]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gravity.web.id/2007/05/19/sepertujuh-umur/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah dua hari libur tiap pekan, kebanyakan orang akan memulai aktivitas pada senin. Kebetulan, saya tak tergolong orang-orang itu. Hari libur saya bisa jatuh kapan saja. Kadang pada sabtu, minggu, saya bekerja. Senin bisa saja saya libur. Senin memang ajaib. Kesepakatan sosial tentang kalender bisa memaksa berbagai kalangan bangun pagi-pagi. Pekerja kantoran yang terjangkit sindrom [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://img.photobucket.com/albums/v142/siapacoba/garfieldWinCE.jpg" alt="Garfield" title="Garfield" align="left" />Setelah dua hari libur tiap pekan, kebanyakan orang akan memulai aktivitas pada senin. Kebetulan, saya tak tergolong orang-orang itu. Hari libur saya bisa jatuh kapan saja. Kadang pada sabtu, minggu, saya bekerja. Senin bisa saja saya libur.</p>
<p>Senin memang ajaib. Kesepakatan sosial tentang kalender bisa memaksa berbagai kalangan bangun pagi-pagi. Pekerja kantoran yang terjangkit sindrom antisenin sejak minggu pagi; pegawai negeri yang lenyap dari meja sejak jumat siang; mahasiswa tingkat pertama yang biasanya banyak kuliah pagi; pelajar yang tak boleh telat masuk gerbang sekolah; pialang saham yang selalu bermimpi menonton pertarungan beruang dan banteng. Semua bertemu di tengah macet jalan raya.</p>
<p>Sungguh aneh. Sepertujuh dari umur orang-orang terpakai untuk keresahan senin, saat pekan mulai sibuk. Dan juga pikiran bahwa masih ada empat hari setelahnya, sebelum akhirnya libur lagi. Maka itu, bioskop menjual tiket murah pada senin. Agar semua energi negatif terbuang saat menatap kain besar persegi, ditemani jagung dan minuman ringan yang buruk untuk kesehatan makhluk hidup manapun.</p>
<p>Tentu saja, kesenangan kalian di bioskop itu adalah kekesalan bagi karyawan bioskop. Mereka benci senin dengan ukuran yang sulit dipahami. Sebab mereka harus menghadapi antrian pengejar tiket murah. Pelajar sekolah yang berisik dan tertawa-tawa dengan kekerasan bunyi yang berbahaya bagi gendang telinga; rombongan penonton yang kecewa kursinya kurang satu sehingga mereka harus terpisah.</p>
<p>Calon penonton mengantri tiada henti. Selalu ada orang bertanya, seakan tidak tahu apa fungsi poster besar film dan jadwal teater yang dipampang. Atau pasangan pacaran yang saling ber-terserah-kamu-aja di depan loket. Baik saat hendak memilih film, maupun ketika memilih tempat duduk.</p>
<p>Setelah selesai menonton film, kalian pergi meninggalkan tumpukan sampah. Kotak dan kaleng minuman. Butiran popcorn. Plastik. Petugas mengangkut sampah dan  menyapu secepatnya, karena rombongan penyampah baru akan segera masuk.</p>
<p>Siapa yang menghibur pekerja bioskop? Sepertujuh umur mereka dibaktikan untuk melegakan penghujung senin kalian!</p>
<p>Hehehe.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gravity.web.id/2007/05/19/sepertujuh-umur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>We Shall Overcome</title>
		<link>http://gravity.web.id/2007/05/01/we-shall-overcome/</link>
		<comments>http://gravity.web.id/2007/05/01/we-shall-overcome/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2007 17:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[buruh]]></category>
		<category><![CDATA[demo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gravity.web.id/2007/05/01/we-shall-overcome/</guid>
		<description><![CDATA[Oh deep in my heart, I do believe We shall overcome someday Hari Buruh tahun lalu, saya sempat menyaksikan bagaimana kerumunan massa mencoba mendekati Istana Negara. Puluhan ribu orang. Dan hari itu pun berlalu. Massa bubar oleh hujan deras. Bisik-bisik mengatakan, banyak pawang hujan &#8220;membantu&#8221; mendinginkan apa pun yang panas dalam aksi damai hari itu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://img.photobucket.com/albums/v142/siapacoba/mayday.jpg" alt="buruh biru" title="buruh biru" align="left" /><em>Oh deep in my heart, I do believe<br />
We shall overcome someday</em></p>
<p>Hari Buruh tahun lalu, saya sempat menyaksikan bagaimana kerumunan massa mencoba mendekati Istana Negara. Puluhan ribu orang. Dan hari itu pun berlalu. Massa bubar oleh hujan deras. Bisik-bisik mengatakan, banyak pawang hujan &#8220;membantu&#8221; mendinginkan apa pun yang panas dalam aksi damai hari itu.</p>
<p>Hari ini, 1 Mei 2007, Hari Buruh datang lagi. Puluhan ribu orang akan turun kembali ke jalanan. Yel, spanduk, sorak-sorai, lagu-lagu, arena joget dadakan, dan apa pun yang bisa terwujud dari massa yang berbaris di jalan protokol.</p>
<p>Maka itu selalu ada rasa cemas. Ribuan, atau juga puluhan ribu, polisi turun ke jalan. Dengan seragam coklat khas mereka, dengan pentungan, tameng, pasti ada pula yang membawa pistol berpeluru tajam. Sejenis kreasi dari logam yang, beberapa kasus menunjukkan, digunakan pula oleh polisi di tempat dan waktu tak tepat. Menembak atasan sendiri atau sipil tak bersalah, misalnya.</p>
<p>Polisi (juga tentara) bukan buruh. Tapi mereka juga ditindas hirarki. Ada kelas-kelas yang tegas dalam korps mereka. Bawahan akan selalu tunduk pada atasannya. Apa yang terjadi ketika legalitas hukum di balik atribut bertemu barisan buruh bereuni tahunan di pusat kota? Mungkin seorang brigadir dua kurus kerempeng menggerakkan kaki, dengan kecepatan tinggi, bersepatu keras, ke pantat buruh terdekat.</p>
<p>Semoga hari ini tak ada kekerasan. Seperti foto di atas. Cermatilah. Rasakan emosi massa dengan satu suara, yang bisa mengirim getar haru ke dalam hati. Bahwa buruh, justru dengan upah yang tak layak, adalah yang membuat kaki kapitalisme negeri ini bisa berdiri.</p>
<p>Maka wahai Pak Presiden, untuk sekali ini saja, keluar dan dengarkanlah apa kata mereka. Lemparkan senyum kakumu, yang akan mereka ingat dan ceritakan dengan bangga pada anak, istri, keluarga dan tetangga di tempat-tempat kumuh mana pun mereka tinggal.</p>
<p>Beberapa orang mungkin akan mengecam Bapak. Tapi biarlah, mereka itu politisi. Jenis manusia yang sudah biasa Bapak hadapi sehari-hari (yang juga menatap balik dari cermin Bapak).</p>
<p><em>*penulis: buruh juga! </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gravity.web.id/2007/05/01/we-shall-overcome/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

