<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Gravitasi Hidup &#187; Keluarga</title>
	<atom:link href="http://gravity.web.id/tag/keluarga/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gravity.web.id</link>
	<description>..di kota yang tak kunjung redup</description>
	<lastBuildDate>Mon, 22 Mar 2010 07:44:00 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Aqiqah</title>
		<link>http://gravity.web.id/2007/10/16/aqiqah/</link>
		<comments>http://gravity.web.id/2007/10/16/aqiqah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Oct 2007 17:43:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Sarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gravity.web.id/2007/10/16/aqiqah/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kasihan kambingnya, dibunuh,&#8221; celetuk keponakan saya, Farhan, saat menyaksikan seekor kambing jantan bersimbah darah. Si kambing, pada sore sebelum acara berlangsung, disembelih sebagai kurban aqiqah.
Senin 15/10, keluarga kami menyelenggarakan aqiqah untuk Sarah, si anggota baru. Aqiqah diselenggarakan di Cikarang, kediaman keluarga kakak. Saudara-saudara berdatangan ke sana. Ada yang dari Bandung, ada pula dari Jakarta (dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Kasihan kambingnya, dibunuh,&#8221; celetuk keponakan saya, Farhan, saat menyaksikan seekor kambing jantan bersimbah darah. Si kambing, pada sore sebelum acara berlangsung, disembelih sebagai kurban <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Aqiqah">aqiqah</a>.</p>
<p>Senin 15/10, keluarga kami menyelenggarakan <a href="http://picasaweb.google.com/fruittea/aqiqah">aqiqah untuk Sarah</a>, si anggota baru. Aqiqah diselenggarakan di Cikarang, kediaman keluarga kakak. Saudara-saudara berdatangan ke sana. Ada yang dari Bandung, ada pula dari Jakarta (dan sekitarnya). Rumah kecil menjadi ramai oleh keluarga.</p>
<p>Aqiqah baiknya dilaksanakan pada hari ketujuh setelah kelahiran. Namun, di usia tujuh hari, Sarah masih nongkrong di rumah sakit karena <a href="http://gravity.web.id/2007/10/09/sarah-aliya-the-girl-who-survived/">suatu hal</a>. Maka aqiqah pun diundur setelah lebaran.</p>
<p>Kata Pak Ustad, inti aqiqah adalah di &#8220;menebus&#8221; kelahiran anak dengan sesuatu yang berharga. Kambing. Selain itu, rambut si bayi dipotong. Beratnya ditimbang, dan orangtua si bayi bersedekah _minimal_ senilai emas murni dengan berat setara rambut yang dipotong. Aqiqah juga menjadi maklumat hadirnya anggota baru keluarga, dan untuk mengumumkan pertalian darahnya.</p>
<p>Kata Pak Ustad pula, para ulama bersepakat bahwa kurban aqiqah untuk bayi laki-laki adalah dua ekor kambing, sementara untuk perempuan hanya seekor. Tapi Pak Ustad tak hendak melupakan fakta sejarah yang diwariskan melalui hadits. Rasulullah mengurbankan masing-masing satu ekor kambing saat aqiqah cucu kembarnya Hasan dan Husen. Lah kok sekarang jadi dua ekor untuk bayi cowok? &#8220;Ulama berijtihad dengan mengaitkan hak waris bagi laki-laki,&#8221; kata Pak Ustad.</p>
<p>Saat aqiqah, rasanya, bukan forum yang tepat untuk mendebat praktek penggandaan kambing bagi bayi pria. Tapi otak awam saya berpikir, bila Rasulullah saja menyamaratakan kurban bagi bayi laki-laki dan perempuan, mengapa kita tidak? Saya titipkan pada Fahmi <a href="http://tausyiah275.blogsome.com/">Side A</a> untuk mencari jawabnya.</p>
<p><img src="http://gravity.web.id/wp-content/uploads/2007/10/sar_thumb.thumbnail.JPG" align="left" height="128" width="96" />Acara aqiqah berjalan lancar. Sarah tak menangis saat bapak, paman, dan ipar-ipar saya menggunting sejumput rambutnya, bergiliran. Matanya bulat menatap ayahnya yang menggendong. Huhu, lucunya! Rangkaian acara aqiqah kelar, rasanya lega. Ada pula sayup haru yang masih nempel saat mengetik ini. Mungkin karena melihat bapak dan ibu saya, juga ibu mertua serta keluarga lainnya. Waktu berlalu begitu cepat. Kini giliran kami menjadi orangtua.</p>
<p>Adapun pernyataan keponakan saya tadi, Farhan, juga memunculkan perasaan haru tertentu. Komentar polos yang tak mudah ditanggapi. Memang bukan berdasar logika, tapi saya yakin dan berharap, bahwa di alam sana si kambing senang menjadi kurban bagi acara aqiqah.</p>
<p>Mbeee.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gravity.web.id/2007/10/16/aqiqah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sarah Aliya: The Girl Who Survived</title>
		<link>http://gravity.web.id/2007/10/09/sarah-aliya-the-girl-who-survived/</link>
		<comments>http://gravity.web.id/2007/10/09/sarah-aliya-the-girl-who-survived/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Oct 2007 16:50:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Sarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gravity.web.id/2007/10/09/sarah-aliya-the-girl-who-survived/</guid>
		<description><![CDATA[Sarah Aliya Rusydi lahir pada Senin (10/9), pukul 06.21 pagi. Hari ini, putri kami berusia satu bulan. Saya dan istri tentu senang, bahkan melebihi kegembiraan orangtua lain saat bayinya menginjak bulan pertama hidup di bumi.
Soalnya, begitu nongol setelah seksio caesaria, Sarah masih harus melewatkan 12 hari pertamanya di rumah sakit. Tepatnya di ruang Neonatal Intensive [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://img.photobucket.com/albums/v142/siapacoba/sarahaliya.jpg" align="left" height="180" width="240" /><a href="http://picasaweb.google.com/fruittea/sarahaliyarusydi">Sarah Aliya Rusydi</a> lahir pada Senin (10/9), pukul 06.21 pagi. Hari ini, putri kami berusia satu bulan. Saya dan <a href="http://cinnamoniac.multiply.com">istri</a> tentu senang, bahkan melebihi kegembiraan orangtua lain saat bayinya menginjak bulan pertama hidup di bumi.</p>
<p>Soalnya, begitu nongol setelah seksio caesaria, Sarah masih harus melewatkan 12 hari pertamanya di rumah sakit. Tepatnya di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Dia mengalami &#8220;<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Meconium_aspiration_syndrome"><em>meconium aspiration syndrome</em></a>&#8221; (<a href="http://medpics.findlaw.com/enlargeexhibit.php?ID=11704">ilustrasi</a>). Buku-buku kehamilan tak banyak menyebut sindrom ini. Salah satu buku panduan kami hanya menyebutnya sebagai &#8220;kondisi yang jarang&#8221;, dan tak menjabarkan lebih lanjut. Sompret, bukan?</p>
<p>Awalnya, dokter hanya mengatakan bahwa Sarah harus dirawat khusus karena tubuhnya membiru bila selang oksigen dilepas. Si Ayah baru pun mencoba tegar. Tapi begitu kereta Sarah lewat, mata saya berair. Bagaimana tidak, tubuh mungil itu meronta-ronta tak nyaman. Sementara saya tak bisa apa-apa.</p>
<p>Di NICU, dokter tak menjanjikan apa-apa. <em>Doctors&#8217; lines</em> yang biasanya hanya didengar dari film, kali itu betul-betul diucapkan. &#8220;Kita sama-sama berdoa, karena bagaimanapun&#8230; (dst)&#8221; Senin sore itu <a href="http://enda.goblogmedia.com">Enda</a> menelepon, mengabarkan soal bayi temannya yang pernah mengalami gejala serupa, dan sukses bertahan. Dia memberikan keyword &#8220;<em>respiratory distress syndrome</em>&#8221; (<a href="http://www.emedicine.com/ped/topic1993.htm">RDS</a>) untuk digoogle.</p>
<p>Setelah membaca, apa yang terjadi mulai terkuak. Gejala sindrom aspirasi mekonium ini memang mirip dengan <a href="http://www.emedicine.com/ped/topic1993.htm">RDS</a>, namun penyebabnya berbeda. Yang pasti ujung-ujungnya sama: hipoksia (kekurangan oksigen), yang bisa berakhir tragis. (Berbekal pengetahuan baru itu, saya kemudian bertanya ini-itu ke para dokter. Sepertinya mereka pikir saya mulai sok tahu, hiihihih).</p>
<p>&#8220;Terendam&#8221; mekonium, paru-paru Sarah hanya berfungsi 30 persen. Sisanya dibantu ventilator, yang memompa oksigen ke paru-parunya. Bernapas dengan mesin! Di ruang NICU, si kecil tersambung ke berbagai alat yang berisik, dengan kabel dan selang di sana sini.</p>
<p>Yang bisa kami lakukan hanya berdoa, dan menitip doa ke teman-teman. Alhamdulillah, Sarah membaik dari hari ke hari. Hampir sepekan di NICU, dia boleh keluar ke kamar bayi di ruang perinatologi. Di sana, teman-teman Sarah umumnya bayi-bayi prematur. Setelah total 12 hari, Sarah boleh pulang. Sekarang sudah beraktivitasi layaknya bayi seusianya: <em>looping</em> minum ASI, ee, bobo, nangis.</p>
<p>Banyak hikmah yang kami ambil dari pengalaman ini. Dan sungguh terima kasih bagi doa yang datang dari (tante dan om di <a href="http://wiki.id-gmail.info/Kampung_Gajah">Kampung Gajah</a>, BBV, dari kantor, dll. Puji Tuhan yang mendengar doa-doa!) berbagai tempat, jengukan, dukungan moral, material, bahkan kiriman ASI cadangan (hai om <a href="http://hericz.net">Hericz</a>). <a href="http://judithms.net">Ada pula</a> yang mengirim energi penyembuh, bahkan seorang teman cenayang (mengaku) mengirim tiga penjaga gaib (ya gimana dong, kan ga keliatan hehe).</p>
<p>Selamat ulang-bulan, putriku. Tumbuhlah kuat, sehat, cerdas, dan membanggakan!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gravity.web.id/2007/10/09/sarah-aliya-the-girl-who-survived/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
