<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Gravitasi Hidup &#187; memori</title>
	<atom:link href="http://gravity.web.id/tag/memori/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gravity.web.id</link>
	<description>..di kota yang tak kunjung redup</description>
	<lastBuildDate>Mon, 22 Mar 2010 07:44:00 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>(Kartu) Natal Membawa Damai</title>
		<link>http://gravity.web.id/2007/12/25/kartu-natal-membawa-damai/</link>
		<comments>http://gravity.web.id/2007/12/25/kartu-natal-membawa-damai/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Dec 2007 19:01:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[memori]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gravity.web.id/2007/12/25/kartu-natal-membawa-damai/</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana sebuah kartu natal mendamaikan dua orang yang berselisih? Ikuti kisah menegangkan dan penuh intrik ini!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di &#8216;kota&#8217; yang dinginnya menusuk tulang itu, keriaan menjelang Hari Natal selalu terasa bahkan sejak Desember masih muda. Hiasan khas Natal bisa dilihat di tempat-tempat umum. Kertas krep hijau tua yang dibentuk mirip tumpukan daun (cemara); kapas putih meniru salju; dan bola-bola merah, perak serta emas, yang digantung di pohon natal. Di pucuknya ada hiasan bintang atau boneka malaikat.</p>
<p>Rumah tetangga yang menunggu natal mudah dibedakan dengan yang tidak merayakan. Biasanya rumah mereka dihias lampu berkelap-kelip, atau hiasan natal digantung di pintu rumah. Pohon plastik ditarik dari gudang dan kembali menghias ruang tamu.</p>
<p>Saat itu saya masih SD, sekitar kelas dua-tiga. Di sekolah, teman-teman yang menunggu natal rutin berlatih menyanyi untuk misa di gereja. Di rumah-rumah yang semuanya tersambung paralel ke parabola kota, saluran-saluran teve berbahasa asing juga diwarnai tema natal.</p>
<p>Ibu saya menyarankan&#8211;dengan agak ngotot&#8211; agar mengirim kartu natal untuk Toni, teman Kristen terdekat saya. Saya pun menulis di sebuah kartu bergambar pohon natal. Opsi penyerahan kartu: simpan di meja di kelas, atau antar ke rumah, ya?</p>
<p>Natal makin dekat, sekolah diliburkan. Maka, hari-hari diisi dengan bermain. Suatu sore, saya dan teman-teman berjanji bertemu di lapangan di samping <em>Sport Hall</em>. Kartu Natal untuk Toni saya selipkan di balik baju&#8211;belum tahu kapan akan diberi. Terima kasih untuk temperatur Tembagapura, susah sekali berkeringat pada suhu tak sampai 20 derajat celcius. Kartu natal tak lepek atau basah.</p>
<p>Entah bagaimana awalnya, saya dan Toni terlibat adu mulut yang berakhir dengan dorong-mendorong (gaya anak SD, lah). Teman-teman melerai, untungnya. Bila ditimpa badan Toni yang gemuk, saya memang bisa gepeng.</p>
<p>Permainan kami bubar. Saya pun beranjak pulang sambil kesal. Teringat kartu natal, saya berbalik lagi ke arah Toni. &#8220;Nih, buat kau,&#8221; sambil melempar amplop berisi kartu natal ke arah Toni. Dia memungut amplop yang sudah agak lecek itu dari tanah berpasir sisa <em>tailing</em>.</p>
<p>Saya sudah berbalik arah lagi saat Toni memanggil-manggil sambil berlari menyusul. Badan gemuknya berguncang-guncang. Wajahnya sumringah, merah dan berhias senyum. &#8220;Ini buat saya?&#8221; kata dia tak percaya. Saya mengiyakan. Toni senang sekali. Sepanjang umurnya yang saat itu belum 10 tahun, sepertinya itu kartu natal pertama yang ditujukan khusus buat Toni.</p>
<p>Permusuhan lenyap seketika. Kami pulang bareng bersama teman-teman lain. Saya tiba di rumah dengan perasaan lega dan senang. Makin senang lagi setelah dipuji Ibu (karena menyerahkan kartu natal). Rasanya, hmm, seperti mengalami sendiri cerita di Majalah Bobo. Tentunya, perselisihan kecil tadi tak saya ceritakan ke Ibu. Yah, buat apa berfokus pada hal tak perlu (yang bisa membuat Ibu mengomel), ihihih.</p>
<p>Dua dekade berlalu. (Hidup, tentu saja, makin kompleks.) Toni kini berdiam di negeri Abang Sam. Sudah cukup lama kami tak berkontak lagi. Tapi, harapan saya di Hari Natal tetap sama: semoga hati yang saling berselisih menemukan perdamaian.</p>
<p>&lt;gambus&gt;<br />
<em>Perdamaian, perdamaian,<br />
perdamaian, perdamaian.<br />
Perdamaian, perdamaian,<br />
perdamaian, perdamaian.</em><br />
&lt;/gambus&gt; [1]</p>
<p><strong>Selamat Natal 2007. Semoga kasih mengisi hati kita semua, agar damai di bumi!</strong></p>
<p>[1]&#8220;Perdamaian&#8221;. Ciptaan Abu Ali Haidar. Group Nasyida Ria, 198x.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gravity.web.id/2007/12/25/kartu-natal-membawa-damai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aduh Telkom Speedy</title>
		<link>http://gravity.web.id/2007/11/14/aduh-telkom-speedy/</link>
		<comments>http://gravity.web.id/2007/11/14/aduh-telkom-speedy/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Nov 2007 17:29:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Konsumen]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[memori]]></category>
		<category><![CDATA[speedy]]></category>
		<category><![CDATA[telkom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gravity.web.id/2007/11/14/aduh-telkom-speedy/</guid>
		<description><![CDATA[Telkom Speedy memutuskan mengotak-atik entah-mesin-apa-namanya miliknya. Mungkin karena ada kabel tertindih meja di Pusat Kabel Nasional Telkom, tiba-tiba para pelanggannya tak bisa mengakses banyak situs. Yahoo, misalnya. Bayangkan betapa krusialnya Yahoo bagi kita]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left">Warung langganan tempat saya makan, kala masih kuliah, letaknya tak jauh dari rumah kos. Cukup berjalan kaki sedikit, sampailah di tempat si Babeh. Menunya standar, nasi dengan berbagai lauk. Walau warungnya kecil, tapi perabot dan perangkat makannya selalu bersih.</p>
<p>Babeh selalu ramah kepada pelanggannya. Bahkan teman saya yang sering minta dibuatkan jus pisang pun diladeni. Ya, jus pisang. Rasanya gak aneh-aneh amat, kok. Kira-kira seperti pisang diblender, lah.</p>
<p>Pagi hari saat dagangan warung belum buka, biasanya sudah ada satu-dua pelanggan yang datang minta makan. Kalau belum masak, Babeh mohon permakluman. Kalau mau tunggu, silakan. Kalau mau cari tempat lain, ditunjukkan. Bila item tertentu dagangannya habis, Babeh pun selalu minta maaf.</p>
<p>Begitulah Babeh dan warung makanannya.</p>
<p>Coba kita bandingkan dengan <a href="https://portal.telkomspeedy.com/index.php">Telkom Speedy</a>. Tak usahlah kita singgung masa silam, di mana dengan <a href="http://omt.telkom.net.id/product/view/23?OMTID=45df447ea6420024fadc5c3ed3f9ba40">harga mencekik</a>, <a title="BUMN Milik Negara">BUMN</a> (yang menguasai hajat hidup orang banyak tapi dimiliki Singapura) itu menangguk uang dari bengkaknya tagihan pelanggannya. Sekarang Telkom Speedy bertarif lebih murah, dengan administrasi lebih mudah, dan jangkauan lebih luas.</p>
<p>Pada suatu hari yang indah, baru-baru ini, Telkom Speedy memutuskan mengotak-atik entah-mesin-apa-namanya miliknya. Mungkin karena ada kabel tertindih meja di Pusat Kabel Nasional Telkom, tiba-tiba para pelanggannya tak bisa mengakses banyak situs. Yahoo, misalnya. Bayangkan betapa krusialnya <strong>Yahoo</strong> bagi kita. Tepatnya <strong>Yahoo Messenger</strong> (karena kita harus tampak <em>online</em> walau status <em>busy</em> atau <em>idle</em>). Yah, kita juga harus akui masih ada yang memanfaatkan Yahoo untuk email.</p>
<p>Saya sendiri merasakan terbatasnya akses selama tiga hari lebih. Ke mana kita cari penjelasan? Tentu saja ke <a href="https://portal.telkomspeedy.com/index.php">situsnya</a>. Alhamdulillah masih bisa diakses. Tapi sejuta topan badai, tak ada setitik pun penjelasan soal penyebab gangguan, sejak kapan tepatnya, kira-kira hingga kapan, apa yang sudah dilakukan Telkom untuk mengatasinya, apa dampaknya bagi muggle-muggle pelanggannya (seperti saya), kompensasi bagi pelanggan (misalnya diskon 68 persen bagi pengguna time-based, dan tambahan kuota 0,68 GB bagi pelanggan volume-based), apalagi permintaan maaf.</p>
<p>Di hari kesekian, barulah muncul penjelasan di <a href="http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/11/tgl/09/time/185055/idnews/850702/idkanal/328">detikinet</a>. Itu pun mungkin setelah orang situ ngomel-ngomel Speedy hanya bisa buka <strong>Gmail</strong>, padahal dia tidak tergabung ke milis-milis junk yang berbahagia.</p>
<p>Di <a href="https://portal.telkomspeedy.com/index.php">situsnya</a> hanya ada beberapa berita lama, padahal di sana ada tajuk &#8220;NEWS, Informasi terkini seputar Speedy&#8221;. Ada pula yang berbau promo. Dan ada sejenis typo. &#8220;<a href="http://72.14.253.104/search?q=cache:RD4vzlGI57gJ:https://portal.telkomspeedy.com/index.php+%22telkoms%22&amp;hl=en&amp;ct=clnk&amp;cd=3">Telkoms</a>&#8220;. Oh yes. Enough with one Telkom. Don&#8217;t give us Telkoms, please!</p>
<p>Tapi Telkom mungkin tenang saja. Di negeri ini, perkara kualitas layanan yang buruk bukan monopoli TLKM. Ngedumel ini pun masih lewat Speedy. Hihihi. *Nunggu galian kabel tukang internet lain*</p>
<p>Catatan: nemu dari google, ternyata ada <a href="http://www.petitiononline.com/tspeedy/petition.html">Petisi Mengecam Telkom Speedy</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gravity.web.id/2007/11/14/aduh-telkom-speedy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di mana Budi dan di mana Ibunya</title>
		<link>http://gravity.web.id/2006/04/17/di-mana-budi-dan-di-mana-ibunya/</link>
		<comments>http://gravity.web.id/2006/04/17/di-mana-budi-dan-di-mana-ibunya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Apr 2006 07:55:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[blogdrive]]></category>
		<category><![CDATA[memori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gravity.web.id/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Keretaapi bergerak dengan kecepatan maksimalnya di atas rel berstandar Indonesia. Di kiri dan kanan, hijau membentang. Sawah, tempat mencuatnya padi yang memberi makan bangsa ini. Pembangunan memberi aksen sesekali, dalam wujud tiang listrik, jalan beraspal, atau bangunan rumah dengan antena menjulang.
Dari dalam gerbong yang sejuk berkat pendingin, tampak mega serupa kapas tersebar di angkasa. Rupanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keretaapi bergerak dengan kecepatan maksimalnya di atas rel berstandar Indonesia. Di kiri dan kanan, hijau membentang. Sawah, tempat mencuatnya padi yang memberi makan bangsa ini. Pembangunan memberi aksen sesekali, dalam wujud tiang listrik, jalan beraspal, atau bangunan rumah dengan antena menjulang.</p>
<p>Dari dalam gerbong yang sejuk berkat pendingin, tampak mega serupa kapas tersebar di angkasa. Rupanya mereka tak kuasa membendung banjir warna biru yang dipantulkan atmosfer ke bumi. Gerbong itu penuh, tentunya. Khas keretaapi setelah libur panjang akhir minggu. Ada sedikit riuh dari beberapa anak kecil yang bercanda, merengek, atau bertanya ini-itu pada orangtuanya. Untungnya tak bising.</p>
<p>Di gerbong itulah, pada dia (yang dalam hal ini tak signifikan siapa orangnya), saya menceritakan sebuah kisah. Sebuah kisah dari masa lalu. Masa lalu, tentu saja, tak terletak di mana-mana kecuali dalam memori. Atau dalam catatan-catatan yang masing-masingnya mencoba meyakinkan bahwa yang tercatat disitu benar belaka.</p>
<p>Sekitar dua dasawarsa lalu, takdir rupanya membuat saya menyukai mainan yang diberikan orangtua. Mainan itu terdiri dari 26 bentuk huruf, dan 10 bentuk angka. Mungkin ayah maupun ibu bergantian menunjukkan pada saya, yang mana huruf A dan bagaimana melafalkan C. Saya tak yakin saya benar-benar memiliki cukup kesadaran untuk menyenangi huruf-huruf. Entahlah, mungkin semacam insting saja yang membimbing.</p>
<p>Hasilnya, sebelum masuk taman kanak-kanak, saya sudah bisa membaca. Walau seringkali yang dibaca tak memberi makna apa-apa. Di taman kanak-kanak tahun 1985, ketika saya berumur empat tahun, kemampuan membaca tidaklah perlu. Sehari-hari kami hanya bermain. Menggambar. Jalan-jalan. Dan kegiatan menyenangkan lainnya.</p>
<p>Dua tahun berlalu. Beberapa hal terjadi, yang menyebabkan keluarga kami berpindah tempat tinggal. Di kelas 1 sekolah dasar, tahun 1987, kurikulum menggariskan pelajaran membaca bagi siswa. Jadi di kelas, buku berwarna merah tua dibagikan pada kami. Bentuknya persegi panjang. Di dalamnya ada i-n-i i-b-u b-u-d-i dan deretan kalimat singkat lain untuk pelajaran membaca.</p>
<p>Tapi saya sudah bisa membaca. Jadi sementara seluruh kelas bersama-sama mengeja huruf, saya memilih membolak-balik halaman buku. Melihat-lihat gambar yang ada. Melihat-lihat halaman di belakang yang makin dipenuhi huruf. Juga menoleh-noleh ke kiri dan ke kanan juga ke belakang saya. Melihat Pak Guru mengetuk-ngetuk penggaris kayu ke papan tulis.</p>
<p>Tapi rupanya, di tahun 1987, keseragaman adalah keniscayaan. Gerak-gerik saya terpantau oleh Pak Guru. Dia memarahi saya karena tak ikut mengeja. Saya tak melawan. Tak ada gunanya saya berteriak saya sudah bisa membaca. Terlebih lagi, saya rasa, saya tak begitu paham mengapa Pak Guru menjadi gusar saat itu.</p>
<p>Dan di depan kelas, membelakangi papan tulis, tepat di bawah Garuda Pancasila yang diapit foto Pak Presiden Soeharto dan Pak Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah, saya berdiri. Dengan satu kaki terangkat, dan kedua tangan memegang telinga. Pak Guru mengganjar setrap.</p>
<p>Kelas kemudian melanjutkan belajar membaca bersama. Tanpa saya, hari itu. Karena saya harus tetap dalam posisi setrap, yang untungnya dimoderatkan oleh Pak Guru sehingga saya boleh berdiri dengan kedua kaki.</p>
<p>I en i ini. Be u bu, de i di. Ini Budi. I en i, ini. I be u, Ibu. Be u bu, de i di.</p>
<p>Ini Ibu Budi.</p>
<p><a href="http://antigravity.blogdrive.com/comments?id=86"><strong>Baca komentar terdahulu</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gravity.web.id/2006/04/17/di-mana-budi-dan-di-mana-ibunya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebutir Upil di Lautan (Renungan Planetarium TIM)</title>
		<link>http://gravity.web.id/2005/06/19/sebutir-upil-di-lautan-renungan-planetarium-tim/</link>
		<comments>http://gravity.web.id/2005/06/19/sebutir-upil-di-lautan-renungan-planetarium-tim/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jun 2005 20:44:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[blogdrive]]></category>
		<category><![CDATA[memori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gravity.web.id/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[Untuk pertama kalinya, saya dan seorang kawan se-tempat-kerja mengunjungi planetarium Taman Ismail Marzuki. Cukup memalukan? Santai. Saya bisa menyebut lima kawan dekat yang, saya yakin pasti, belum pernah ke tempat itu. Hehehe.
Jumat (17/6), si kawan itu melontarkan sebuah ide. &#8220;Ke planetarium yuk!&#8221; Kenapa tidak? Kami pun berjanji bertemu di TIM Cikini, Jakarta, keesokan harinya.

Dengan karcis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk pertama kalinya, saya dan seorang kawan se-tempat-kerja mengunjungi planetarium Taman Ismail Marzuki. Cukup memalukan? Santai. Saya bisa menyebut lima kawan dekat yang, saya yakin pasti, belum pernah ke tempat itu. Hehehe.</p>
<p>Jumat (17/6), si kawan itu melontarkan sebuah ide. &#8220;Ke planetarium yuk!&#8221; Kenapa tidak? Kami pun berjanji bertemu di TIM Cikini, Jakarta, keesokan harinya.</p>
<p><img src="http://img.photobucket.com/albums/v142/siapacoba/milkyway.jpg" alt="" width="150" /></p>
<p>Dengan karcis Rp 3500, kami duduk tak jauh dari proyektor bulat dengan banyak lensa. Di atas kami terbentang kubah yang menjadi layar proyektor, mensimulasikan kubah langit malam. Di belakang kami, duduk puluhan anak kecil dengan pendampingnya. Tampak pula beberapa pasang kekasih.</p>
<p>Sudah lama saya tak merasakan penantian seperti itu: menanti pemandangan seperti apa yang akan terlihat. Proyektor menyala mensimulasikan langit senja. Kemudian muncul bintang-bintang. Langit makin gelap, dan terbentanglah langit Bali Januari 2002.</p>
<p>Saya dan kawan berdecak kagum. Sedikit norak tak apalah. Jangan tanya suara cempreng anak-anak kecil itu!</p>
<p>Serasa di bawah langit malam, padahal jam belum menunjuk empat sore. Pikiran pertama yang timbul adalah, &#8220;boleh ngerokok ga ya?&#8221; Suasana menakjubkan itu tiba-tiba rusak karena di langit malam di atas kami tiba-tiba muncul tulisan besar dengan font zaman dulu: GALAKSI BIMASAKTI.</p>
<p>Sekitar satu jam ke depan, langit di atas kami juga berputar layaknya langit sungguhan. Suara seorang pria memandu lewat pengeras suara, menginformasikan penonton tentang Keppler, tata surya, diameter galaksi bimasakti, rasi-rasi bintang, dan berbagai hal yang mungkin tak sepenuhnya dipahami anak-anak kecil yang bersahutan ketika gambar, salah satunya, seekor anjing menimpa deretan bintang di rasi Canis Majoris (anjing besar).</p>
<p>Diantara penonton sempat pula ada yang menyalakan lampu ponsel, dan menyorotkan ke arah &#8220;langit timur&#8221;. Cukup mengganggu. Lima tahun lalu, layar ponsel belum seterang sekarang!</p>
<p>&#8220;Coba itu, tolong matikan lampunya yah,&#8221; suara si pemandu terdengar, menyadarkan saya bahwa suara yang terdengar bukanlah rekaman.<br />
***</p>
<p>Menghibur. Informatif! Ternyata matahari bersama bintang-bintang lain di galaksi kita juga be-revolusi terhadap pusat galaksi. Kecepatannya 100 km/detik! Wah! Padahal bumi juga berotasi sambil mengelilingi matahari. Saat sama, ia menemani matahari bergerak mengelilingi pusat galaksi. Dan galaksi pun, bukan tak mungkin, mengelilingi satu pusat yang lebih tak terjangkau lagi.</p>
<p>Dan saat yang sama, ruang angkasa meluas. Sebuah gerakan yang berawal dari Ledakan Besar (big bang). Teori <em>Expanding Universe</em>. Apa artinya? Posisi dalam ruang adalah relatif.</p>
<p>Ketika <a href="http://lickz.blogdrive.com" target="_blank">Lika</a> di Bandung menemui <a href="http://simplysita.blogdrive.com" target="_blank">Sita</a> yang bermeditasi di Jatinangor, Lika juga menjadi bagian dari pergerakan benda-benda semesta itu. Ia tak hanya bergerak dari Bandung ke Jatinangor, namun juga memutari poros bumi, mengelilingi matahari, dan ikut mengelilingi pusat galaksi dan seterusnya.</p>
<p>Sita yang tampak diam bermeditasi (buat apa, Sit?) pun sebenarnyalah tak hanya diam!</p>
<p>Pengarang sebuah kitab-berusia ribuan tahun menyatakan, redaksinya kurang lebih: Kamu lihat gunung itu diam, padahal sesungguhnya ia bergerak cepat. Dia mungkin merujuk pada &#8220;ke-takadayangdiam-an&#8221; serupa.</p>
<p>Kitab itu bernama Al-quran. Ia juga menjadi tameng orang yang berpoligami (dan melukai hati istri pertama) maupun wakil rakyat yang menghujat Artika Sari Devi, sambil membiarkan rapat-rapatnya bertebar amplop tebal di parlemen Senayan.</p>
<p>Hmm. Saya pernah membaca bahwa ada sebuah kitab Hindu menyebutkan, semesta berdegup. Maksudnya, ia mengembang kemudian mengempis, kemudian mengembang dan seterusnya. Sebuah siklus eksplosi-implosi-eksplosi yang entah kapan berakhir.</p>
<p>Bila itu benar, wah, susah dipercaya bahwa pada siklus eksplosi semesta selanjutnya, saya akan kembali ke planetarium TIM lagi. Ternganga lagi. Mengetik tulisan ini lagi. Disetrap lagi. Belajar naik sepeda lagi. Menjatuhkan kolor lagi di kampus Atmajaya!</p>
<p>Tapi yang pasti, tak terbantahkan, adalah bahwa umur kita di bumi hanyalah jauh lebih kecil dari sepersemilyar bagian dari umur semesta.</p>
<p>Sebutir upil di lautan.<br />
<em>Semoga menulis, dan membaca, tulisan ini bukanlah sia-sia.</em></p>
<p><a href="http://antigravity.blogdrive.com/comments?id=64"><strong>Baca komentar terdahulu</strong></a><em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gravity.web.id/2005/06/19/sebutir-upil-di-lautan-renungan-planetarium-tim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat-saat Memalukan</title>
		<link>http://gravity.web.id/2005/06/02/saat-saat-memalukan/</link>
		<comments>http://gravity.web.id/2005/06/02/saat-saat-memalukan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jun 2005 21:33:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[blogdrive]]></category>
		<category><![CDATA[memori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gravity.web.id/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[Suatu siang yang sangat biasa di Jakarta. Jalanan macet. Polisi menjaga perempatan, menghirup timbal. Di gedung-gedung perkantoran, para karyawan sedang berusaha keras untuk terlihat sibuk. Pelajar sedang duduk dalam kelas-kelas, sebagian terkantuk, melamun. Guru mengajar, tidak lagi memukul murid dengan penggaris.
Siang itu, saya berdiri di dalam bis transjakarta yang melaju dari arah Kota. Pendingin menghembus, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu siang yang sangat biasa di Jakarta. Jalanan macet. Polisi menjaga perempatan, menghirup timbal. Di gedung-gedung perkantoran, para karyawan sedang berusaha keras untuk terlihat sibuk. Pelajar sedang duduk dalam kelas-kelas, sebagian terkantuk, melamun. Guru mengajar, tidak lagi memukul murid dengan penggaris.</p>
<p>Siang itu, saya berdiri di dalam bis transjakarta yang melaju dari arah Kota. Pendingin menghembus, hilangkan gerah. Penumpang yang duduk sebagian besar tidak saling kenal. Terdiam dalam pikiran masing-masing. Ada pula anak kecil yang menggelayut pada ibunya yang tersenyum gemas.</p>
<p>Supir bis? Ah, siapa yang tau apa di otaknya? Menjalani rutinitas menginjak pedal, mengoper transmisi, dan mengerem di tiap pemberhentian setelah sebelumnya menekan tombol bulat di samping setir.</p>
<p>&#8220;Pemberhentian selanjutnya: Mangga Besar. Next destination: Mangga Besar,&#8221; rekaman suara seorang wanita, entah siapa, terdengar dalam bis. Penumpang mungkin tak memperhatikan lagi. Tak ada yang bertanya berapa bayaran yang diterima pemilik suara, dan apakah kontraknya menyebutkan lama pemakaian rekaman.</p>
<p>Bis berhenti, pintu membuka. Seorang perempuan melangkah masuk, menoleh kiri kanan mencari tempat duduk kosong. Namun penuh. Pintu menutup. Supir mulai menjalankan bis. Perempuan tadi memilih berdiri di koridor bis bagian belakang.</p>
<p>Ketika ia melangkah, rupanya sang supir menaikkan kecepatan agak tiba-tiba, sehingga mekanisme keseimbangan badan perempuan tadi memaksanya melangkah lebih cepat ke belakang. Sayang, otot pinggang, paha dan kakinya kurang siap menerima perintah tiba-tiba yang melintas di tulang belakangnya.</p>
<p>Badannya oleng, dan nyaris menimpa seorang penumpang. Untung, ia tak jadi jatuh, walau posisi badannya telah menukik.</p>
<p>Hal yang biasa.</p>
<p>Tapi rupanya ada sesuatu dalam diri perempuan itu yang mendorongnya untuk tersenyum, tersipu malu. Tidak pada siapa-siapa melainkan dirinya sendiri. Ia membekapkan tangan kanan ke mulutnya, seolah menutupi deretan giginya yang mengintip. Tangan kiri menggapai pegangan.</p>
<p>Rupanya aksi salah tingkah itu justru membuat penumpang menoleh, untuk beberapa detik menjadikan gestur-gestur aneh si perempuan sebagai tontonan. Beberapa menyunggingkan senyum. Saya pun tertawa dalam hati.</p>
<p>Saat-saat memalukan bagi si perempuan. Tentunya, ia tak pernah membayangkan itu akan terjadi. Namun, mungkin, sepanjang sisa perjalanan ke tempatnya turun, ia akan merutuk dalam hati.</p>
<p>&#8220;Aduh, malu-maluin banget sih, gue,&#8221; pikirnya.</p>
<p>***</p>
<p>Padahal, hal memalukan itu bisa terjadi pada siapa saja. Seperti teman saya, Yuliandi, yang kini menjadi pengarah musik di sebuah radio Bandung. Suatu waktu ketika kuliah, pria budiman ini duduk di sebuah angkot, bersama saya. Ia duduk di kursi ekstra yang biasa terletak di depan pintu.</p>
<p>Setelah berhenti mendadak, angkot melaju mendadak pula. Posisi duduknya yang labil membuat tubuh kurusnya mendadak melayang tak terkendali, dan mendarat darurat di lantai angkot. Tepat di depan deretan kaki penumpang angkot yang penuh.</p>
<p>Suatu obyek fisika yang menarik ditelaah!<br />
Untuk sesaat, pemandangan dalam angkot cukup mengharukan. Penumpang penuh, dan semua menatap ke tubuh yang terjerembab itu.</p>
<p>Ia segera bangun, kembali duduk, dan memalingkan wajah ke arah depan. Posisinya bertahan selama sisa perjalanan. 200 meter itu terasa lama bagi saya yang terkikik menahan tawa. Dan bagi Yuliandi, 200 meter itu mungkin lima kali lipat lebih menyiksa. Apalagi di tengah tawa pelan para penumpang, yang sepertinya mampu menggedor jantung Yuliandi.</p>
<p>&#8220;Kiri, pak.&#8221; Aksi membayar angkot adalah siksaan bonus. Mungkin, ia merasa penumpang menatap padanya, si remaja yang menyuguhkan tontonan di tengah bosan perjalanan. Perasaan itu terbukti. Ketika menyeberang jalan, dari angkot yang menjauh itu, tampak tatapan mata para penumpang. Gigi mereka mengintip di belakang senyum.</p>
<p>Kejadian yang sebentar itu, bertahan sebagai momen yang menyebar dari mulut ke mulut. Bagai hadis, diriwayatkan dari orang ke orang lainnya!</p>
<p>***</p>
<p>Bukan berarti saya tak pernah mengalami. Suatu kali, di tengah kunjungan ke sebuah universitas di Jakarta, saya dan kawan-kawan dari Bandung bersiap menyambut tangga yang akan mengantar ke aula di lantai dua, tempat acara diadakan.</p>
<p>Sambil menaiki tangga, saya merogoh tas mengambil sebuah berkas. Berkas itu sukses saya temukan. Ketika mengeluarkan tangan, rupanya bukan hanya berkas yang tertarik ke luar. Seonggok kolor pun ikut melayang, dan dengan manisnya hinggap di anak tangga.</p>
<p>Benda itu membuat langkah kawan-kawan terhenti, dan mulut mereka membuka mengeluarkan siksaan bernama tawa. Untung hanya kawan-kawan saja. Hah? Ternyata tidak. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi universitas itu pun tersenyum manis.</p>
<p>Kisah itu, tentu saja, bertahan pula beberapa lamanya. Diriwayatkan pula bagai hadits, dari orang satu ke orang lainnya.</p>
<p><a href="http://antigravity.blogdrive.com/comments?id=63"><strong>Baca komentar terdahulu</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gravity.web.id/2005/06/02/saat-saat-memalukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
