<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Gravitasi Hidup &#187; natal</title>
	<atom:link href="http://gravity.web.id/tag/natal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gravity.web.id</link>
	<description>..di kota yang tak kunjung redup</description>
	<lastBuildDate>Mon, 22 Mar 2010 07:44:00 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>(Kartu) Natal Membawa Damai</title>
		<link>http://gravity.web.id/2007/12/25/kartu-natal-membawa-damai/</link>
		<comments>http://gravity.web.id/2007/12/25/kartu-natal-membawa-damai/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Dec 2007 19:01:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[memori]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gravity.web.id/2007/12/25/kartu-natal-membawa-damai/</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana sebuah kartu natal mendamaikan dua orang yang berselisih? Ikuti kisah menegangkan dan penuh intrik ini!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di &#8216;kota&#8217; yang dinginnya menusuk tulang itu, keriaan menjelang Hari Natal selalu terasa bahkan sejak Desember masih muda. Hiasan khas Natal bisa dilihat di tempat-tempat umum. Kertas krep hijau tua yang dibentuk mirip tumpukan daun (cemara); kapas putih meniru salju; dan bola-bola merah, perak serta emas, yang digantung di pohon natal. Di pucuknya ada hiasan bintang atau boneka malaikat.</p>
<p>Rumah tetangga yang menunggu natal mudah dibedakan dengan yang tidak merayakan. Biasanya rumah mereka dihias lampu berkelap-kelip, atau hiasan natal digantung di pintu rumah. Pohon plastik ditarik dari gudang dan kembali menghias ruang tamu.</p>
<p>Saat itu saya masih SD, sekitar kelas dua-tiga. Di sekolah, teman-teman yang menunggu natal rutin berlatih menyanyi untuk misa di gereja. Di rumah-rumah yang semuanya tersambung paralel ke parabola kota, saluran-saluran teve berbahasa asing juga diwarnai tema natal.</p>
<p>Ibu saya menyarankan&#8211;dengan agak ngotot&#8211; agar mengirim kartu natal untuk Toni, teman Kristen terdekat saya. Saya pun menulis di sebuah kartu bergambar pohon natal. Opsi penyerahan kartu: simpan di meja di kelas, atau antar ke rumah, ya?</p>
<p>Natal makin dekat, sekolah diliburkan. Maka, hari-hari diisi dengan bermain. Suatu sore, saya dan teman-teman berjanji bertemu di lapangan di samping <em>Sport Hall</em>. Kartu Natal untuk Toni saya selipkan di balik baju&#8211;belum tahu kapan akan diberi. Terima kasih untuk temperatur Tembagapura, susah sekali berkeringat pada suhu tak sampai 20 derajat celcius. Kartu natal tak lepek atau basah.</p>
<p>Entah bagaimana awalnya, saya dan Toni terlibat adu mulut yang berakhir dengan dorong-mendorong (gaya anak SD, lah). Teman-teman melerai, untungnya. Bila ditimpa badan Toni yang gemuk, saya memang bisa gepeng.</p>
<p>Permainan kami bubar. Saya pun beranjak pulang sambil kesal. Teringat kartu natal, saya berbalik lagi ke arah Toni. &#8220;Nih, buat kau,&#8221; sambil melempar amplop berisi kartu natal ke arah Toni. Dia memungut amplop yang sudah agak lecek itu dari tanah berpasir sisa <em>tailing</em>.</p>
<p>Saya sudah berbalik arah lagi saat Toni memanggil-manggil sambil berlari menyusul. Badan gemuknya berguncang-guncang. Wajahnya sumringah, merah dan berhias senyum. &#8220;Ini buat saya?&#8221; kata dia tak percaya. Saya mengiyakan. Toni senang sekali. Sepanjang umurnya yang saat itu belum 10 tahun, sepertinya itu kartu natal pertama yang ditujukan khusus buat Toni.</p>
<p>Permusuhan lenyap seketika. Kami pulang bareng bersama teman-teman lain. Saya tiba di rumah dengan perasaan lega dan senang. Makin senang lagi setelah dipuji Ibu (karena menyerahkan kartu natal). Rasanya, hmm, seperti mengalami sendiri cerita di Majalah Bobo. Tentunya, perselisihan kecil tadi tak saya ceritakan ke Ibu. Yah, buat apa berfokus pada hal tak perlu (yang bisa membuat Ibu mengomel), ihihih.</p>
<p>Dua dekade berlalu. (Hidup, tentu saja, makin kompleks.) Toni kini berdiam di negeri Abang Sam. Sudah cukup lama kami tak berkontak lagi. Tapi, harapan saya di Hari Natal tetap sama: semoga hati yang saling berselisih menemukan perdamaian.</p>
<p>&lt;gambus&gt;<br />
<em>Perdamaian, perdamaian,<br />
perdamaian, perdamaian.<br />
Perdamaian, perdamaian,<br />
perdamaian, perdamaian.</em><br />
&lt;/gambus&gt; [1]</p>
<p><strong>Selamat Natal 2007. Semoga kasih mengisi hati kita semua, agar damai di bumi!</strong></p>
<p>[1]&#8220;Perdamaian&#8221;. Ciptaan Abu Ali Haidar. Group Nasyida Ria, 198x.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gravity.web.id/2007/12/25/kartu-natal-membawa-damai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
