<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Gravitasi Hidup &#187; Tempo</title>
	<atom:link href="http://gravity.web.id/tag/tempo/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gravity.web.id</link>
	<description>..di kota yang tak kunjung redup</description>
	<lastBuildDate>Mon, 22 Mar 2010 07:44:00 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mega Kopdar di Megaplex: Pesta Blogger 2007</title>
		<link>http://gravity.web.id/2007/10/20/mega-kopdar-di-megaplex-pesta-blogger-2007/</link>
		<comments>http://gravity.web.id/2007/10/20/mega-kopdar-di-megaplex-pesta-blogger-2007/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Oct 2007 21:31:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Blitz Megaplex]]></category>
		<category><![CDATA[Bloger]]></category>
		<category><![CDATA[kopdar]]></category>
		<category><![CDATA[pb2007]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta Blogger]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gravity.web.id/2007/10/20/mega-kopdar-di-megaplex-pesta-blogger-2007/</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu yang panas. Tapi dari lantai Blitz Megaplex di kawasan Grand Indonesia, terik Jakarta tak terasa. Yang ada ialah hangat dari ratusan blogger yang bertemu muka. Mereka adalah gerombolan orang-orang yang secara kolektif menaikkan penggunaan bandwidth internet nasional.
Pesta Blogger 2007 memang masih sepekan lagi. Tapi kira-kira seperti itulah nantinya ajang &#8220;kumpul-kumpul blogger berskala nasional&#8221; itu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.pestablogger.com"><img src="http://www.pestablogger.com/wp-content/uploads/2007/09/button-pb-005.jpg" alt="Pesta Blogger 2007" style="border-style: none" align="left" /></a>Sabtu yang panas.<!-- ckey="7852134A" --> Tapi dari lantai <a href="http://www.blitzmegaplex.com/in/">Blitz Megaplex</a> di kawasan Grand Indonesia, terik Jakarta tak terasa. Yang ada ialah hangat dari ratusan blogger yang bertemu muka. Mereka adalah gerombolan orang-orang yang secara kolektif menaikkan penggunaan bandwidth internet nasional.</p>
<p><a href="http://pestablogger.com">Pesta Blogger 2007</a> memang masih sepekan lagi. Tapi kira-kira seperti itulah nantinya ajang &#8220;kumpul-kumpul blogger berskala nasional&#8221; itu. Ratusan orang sudah <a href="http://pestablogger.com/peserta/">mendaftar</a>. Di milis, blog, hingga media massa, acara ini sudah dibahas. Tak lupa pula di <strong>Kitab Paras</strong> alias <a href="http://www.facebook.com/event.php?eid=5736269676">facebook</a>.</p>
<p>Selain blogger yang mendaftar (100 pertamax, dapet free pass), panitia mengundang 200 orang blogger yang tak perlu membayar tiket masuk. Mereka, saya kutip dari situs Panitia, &#8220;terdiri dari para pembicara, bloggers terkemuka Indonesia, serta tentu saja; yang paling signifikan adalah perwakilan dari komunitas-komunitas bloggers di daerah serta komunitas blog lainnya yang ada di Indonesia.&#8221;</p>
<p>Pekan lalu di inbox gmail saya, sebuah undangan dari panitia masuk. Entah apa alasan saya diundang ke sana. Pembicara bukan, terkemuka jelas enggak (blogger terkemuka sudah pada jadi panitia hehehe), dan bukan pula perwakilan komunitas blogger. Komunitas-komunitas di mana saya terdaftar sudah menunjuk wakil-wakilnya.</p>
<p>Saya, yang tadinya berniat datang untuk kumpul-kumpul (dan foto-foto, jelas dong) saja, nantinya harus ditingkatkan juga untuk menengok ke pusat acara. Ngapain aja? Wah gak tau juga. Tapi melihat pilihan tanggalnya (27 Oktober 2007) yang mirip dengan tanggal Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bukan tak mungkin bakal ada deklarasi Sumpah Pemuda Dot O R Dot I D. *bawa bendera*</p>
<p>Jadi, mau apa sih di Pesta Blogger? Tak usah pusing-pusing. Dengan penyederhanaan di sana-sini, itu adalah kopdar!</p>
<p><img src="http://img.photobucket.com/albums/v142/siapacoba/bloger.png" align="left" height="173" width="203" />Oh iya, saya mau menambahkan. Tampaknya belakangan ini ada (upaya) mengindonesiakan istilah &#8220;blogger&#8221;. Apa jadinya? <strong>Bloger</strong>, dengan satu huruf G dihapus. Majalah Tempo sudah <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/mbmtempo/arsip/2007/10/08/ITR/mbm.20071008.itr2.id.html">memakainya</a>, dan jelas bukan slaah kteik.</p>
<p>Jadi, semoga ada umur bersua, semoga kita&#8211;para bloger&#8211;bisa bertemu di Pesta Bloger, eh, Pesta Blogger!<br />
<!-- ckey="2936AFF6" --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gravity.web.id/2007/10/20/mega-kopdar-di-megaplex-pesta-blogger-2007/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Piala Dunia dan Penambal Ban</title>
		<link>http://gravity.web.id/2006/07/01/piala-dunia-dan-penambal-ban/</link>
		<comments>http://gravity.web.id/2006/07/01/piala-dunia-dan-penambal-ban/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jun 2006 18:01:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Konsumen]]></category>
		<category><![CDATA[blogdrive]]></category>
		<category><![CDATA[peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gravity.web.id/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[Buruh media itu bernama Agoeng Wijaya. Nama yang aneeeeh, memang. Agoeng, mengikuti kaidah ejaan lama. Wijaya, seperti aturan ejaan baru. Tentunya bukan saya saja yang berpikir, apa maksud penamaan campursari seperti itu.
Jumat malam waktu Jakarta, ketika Jerman berjibaku dengan Argentina di Olympiastadion, Berlin, Agoeng tengah mengendarai motor bebeknya di jalan sekitar Pejompongan, mengarah ke Manggarai. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buruh media itu bernama <a href="http://www.google.co.id/search?hl=id&amp;q=%22agoeng+wijaya%22&amp;btnG=Telusuri+dengan+Google&amp;meta=">Agoeng Wijaya</a>. Nama yang aneeeeh, memang. Agoeng, mengikuti kaidah ejaan lama. Wijaya, seperti aturan ejaan baru. Tentunya bukan saya saja yang berpikir, apa maksud penamaan campursari seperti itu.</p>
<p>Jumat malam waktu Jakarta, ketika Jerman berjibaku dengan Argentina di Olympiastadion, Berlin, Agoeng tengah mengendarai motor bebeknya di jalan sekitar Pejompongan, mengarah ke Manggarai. Tugas kantor membuatnya terpaksa melewatkan sekian menit laga dua tim yang terlalu cepat bertemu itu.</p>
<p>Memang, tidak ada pepatah yang berbunyi &#8220;siapa menabur paku, dia menabur untung&#8221;. Yang pasti, ban motor Agoeng melindas paku. Pastinya, kempeslah si ban. Dan seperti jalanan berpaku lain di Jakarta, tak jauh dari tempat kejadian perkara pasti ada kios penambal ban.</p>
<p>Agoeng tak mau berpikir buruk menuduh siapa menabur paku. Dia hanya ingin segera menambal ban motor. Maka ia pun menghampiri kios terdekat dan mencari spesialis penambal ban yang tengah dinas. Di tengah celinguk Agoeng, seseorang menunjuk seorang pria yang tengah duduk di depan teve. Mafhumlah Agoeng, bahwa yang ditunjuk itu adalah sang penambal ban.</p>
<p>&#8220;Pak, mau nambal ban,&#8221; kata Agoeng pada Pak penambal. Tapi bapak itu berkelit, &#8220;Wah yang nambal bannya lagi pergi.&#8221; Agoeng bingung. Dia menoleh ke orang pertama yang menunjuk-nujuk si penambal tadi. Kembali, orang itu menunjuk-nunjukkan jarinya ke bapak yang masih juga berkelit.</p>
<p>Situasi sialan seperti itu membuat Agoeng mengerti, bahwa bannya yang kempes tak mampu membuat penambal bergeming dari kursinya. Apalagi kalau Pak penambal mempertaruhkan uang yang cukup besar. Hohoho.</p>
<p>Alhasil, sambil merutuk-rutuk, Agoeng pun mencari tukang tambal ban lain yang tidak memasang televisi di kiosnya. Atau yang rela meninggalkan sebentar pertarungan babak pertama tim Tango dan tim Panser, demi mengobati luka-luka di ban motor bebek kesayangan Agoeng.</p>
<p><a href="http://antigravity.blogdrive.com/comments?id=90"><strong>Baca komentar terdahulu</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gravity.web.id/2006/07/01/piala-dunia-dan-penambal-ban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jawa Adalah Kunci</title>
		<link>http://gravity.web.id/2005/03/06/jawa-adalah-kunci/</link>
		<comments>http://gravity.web.id/2005/03/06/jawa-adalah-kunci/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Mar 2005 13:52:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dodi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[blogdrive]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gravity.web.id/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Telinga saya dibombardir bebunyian yang timbul dari artikulasi khas orang-orang mayoritas negeri ini.
Pada dasarnya tidak ada masalah. Biasa saja. Hanya saja seringkali bebunyian itu terdengar pada jarak dimana percakapan tak bisa ditangkap, kecuali sayup, dan menyerupai suara &#8220;bletak-bletuk&#8221; tak jelas. Tak jelas karena saya tak paham bahasa jawa, namun terutama karena artikulasi khas itu seringkali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Telinga saya dibombardir bebunyian yang timbul dari artikulasi khas orang-orang mayoritas negeri ini.</p>
<p>Pada dasarnya tidak ada masalah. Biasa saja. Hanya saja seringkali bebunyian itu terdengar pada jarak dimana percakapan tak bisa ditangkap, kecuali sayup, dan menyerupai suara &#8220;bletak-bletuk&#8221; tak jelas. Tak jelas karena saya tak paham bahasa jawa, namun terutama karena artikulasi khas itu seringkali memanfaatkan leher bagian dalam untuk menimbulkan aksentuasi tertentu. Kadang-kadang juga bunyi sengau.</p>
<p>Bukan masalah.</p>
<p>Setelah banyak pembicara silih-berganti memberi materi, membuka diskusi dan membagi pengalaman, saya tersadar bahwa hampir semua dari orang-orang hebat yang menjadi ujung tombak media nomor satu nasional ini berbicara dengan aksentuasi serupa. Dan saya terheran menemukan fakta ini: bila diminta mengurutkan pemateri yang remarkable, maka pada urutan teratas daftar saya adalah Pak M, Kak WM, Bu YI dan Mbak HYK, juga Kang G. Kenapa? Semoga bukan karena kelimanya TIDAK berbicara dengan aksenstuasi tersebut.</p>
<p>Kak WM dan Mbak HYK berasal dari timur negeri ini. Sebenarnya agak lucu juga HYK harus dipanggil &#8220;Mbak&#8221;. Leluhurnya pasti terheran-heran di dunia seberang. Bu YI masih keturunan jawa, tapi karena beliau putri seorang mantan diplomat terkemuka, maka kebiasaan hidup di luar negeri justru membuat aksennya seperti orang asing. Saya rasa ia menguasai beberapa bahasa. O ya, saya ingat pernah membaca beberapa liputannya. Ketika itu saya masih SD!</p>
<p>Kang G, satu-satunya sunda yang saya temui selama masa &#8220;belajar dalam kelas&#8221; harus menerima kenyataan bahwa orang-orang sering memanggilnya Mas. Kalau bukan lulusan FSRD ITB, mungkin ia tak akan mengurusi desain visual majalah terkemuka media ini. Pak M, reporter senior yang kini mengepalai sebuah divisi. Tampak seperti seorang tua yang bahagia dengan membuat orang-orang tertawa.</p>
<p>Di luar lima orang itu, semua berbicara dengan aksen serupa. Tambahkan bunyi gamelan dan beberapa orang menari, lengkaplah sudah keluhuran musik pentatonis!</p>
<p>Tapi ini juga bisa jadi bukan masalah. Mungkin ini memang gambaran komposisi negara ini. Sebuah miniatur. Kenyataan bahwa pulau jawa menjadi pusat negara. Tidak banyak berubah dari perkataan DN Aidit dalam film propaganda G30S/PKI, &#8220;Jawa adalah kunci!&#8221;</p>
<p>Sebagai catatan, film ini diputar berulang selama puluhan tahun dan wajib tonton. Berarti pula perkataan &#8220;jawa adalah kunci&#8221; tersebut berkumandang puluhan tahun. Dan hingga kini jawa memang tetap menjadi kunci. Propaganda yang baik! Terima kasih Aidit! Terima kasih Orba!</p>
<p>Dan pulau jawa, indonesia, didominasi oleh, dari segi bebunyian, bletak-bletuk tadi. Bletak-bletuk ini menyebar dari pucuk eksekutif hingga TKI yang digampari majikannya di Singapura. Dari pergerakan kiri, fasis, islam liberal, teroris hingga intelijen. Dimana-mana ada! Berterimakasihlah pada semboyan &#8220;banyak anak banyak rejeki&#8221; yang dianut selama ratusan tahun.</p>
<p>Maka tak heranlah bila media ini pun didominasi bletak-bletuk tadi. Sebagai pilar keempat sebuah negara yang didominasi bletak-bletuk, hal ini tidak mengejutkan. Justru dapat menjadi isu berbahaya bila komposisinya tak mirip. Dengan mudah bisa dituduh memiliki agenda tertentu.</p>
<p>Artikel ini TIDAK bertendensi rasis. Bahkan konsep ras tidak bisa dipakai dalam masalah ini in the first place. Bukan, bukan rasis. Bukan juga SARA.</p>
<p>Ini hanya masalah bagaimana aksen itu terdengar seperti bletak-bletuk. Tambahkan gamelan dan orang-orang menari. Hhuahauhauua!</p>
<p>Well, someone has to laugh.</p>
<p><a href="http://antigravity.blogdrive.com/comments?id=50"><strong>Baca komentar terdahulu</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gravity.web.id/2005/03/06/jawa-adalah-kunci/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
